Kalimat soal ajaran radikal dalam buku PAI Kelas XI SMA di Jombang. (foto: Muji Lestari)

“Orang yang menyembah selain Allah telah menjadi musyrik dan boleh dibunuh."

Sederhananya, menurut kalimat tersebut: orang non-Muslim boleh dibunuh.

Ngeri. Lebih seram lagi karena kalimat ini ada di buku pelajaran Agama Islam untuk kelas 2 SMA, di halaman 78. Buku ini sudah beredar luas di Jombang, Jawa Timur, dan meresahkan banyak orang. Hari ini rencananya buku itu akan ditarik dari peredaran di Jombang. Bisa jadi, daerah lain juga ikut mengalami tapi tak muncul ke permukaan. Sebab sumber buku tersebut ditengarai berasal dari Buku Sekolah Elektronik milik Kementerian Pendidikan Nasional. Buku ini tak hanya beredar di SMA, tapi juga di kalangan Madrasah Aliyah dan Sekolah Menengah Kejuruan.

Coba bayangkan. Ada berapa siswa yang sudah membaca kalimat tersebut? Berapa banyak yang meyakini kalau kalimat itu benar karena kalimat itu ada di buku pelajaran yang mereka pakai di sekolah? Berapa banyak yang ragu akan kalimat itu tak berani bersuara karena takut dianggap berbeda?

Ini membuat semuanya makin ngeri. Wakil Bupati Jombang sudah memastikan kalau buku akan ditarik dari seluruh Jombang hari ini. Begitu juga Kementerian Pendidikan Nasional yang langsung memerintahkan buku itu ditarik dari peredaran.

Menteri Pendidikan Anies Baswedan mengaku kaget begitu membaca kalimat tersebut. Menurut Anies, ini adalah salah satu dampak dari pelaksanaan Kurikulum 2013 yang tergesa-gesa. Pembuatan buku dipercepat, kendali mutu jadi lemah, dan terjadilah kecolongan macam begini. Ini tentu catatan penting bagi pemerintah. Bukannya tidak mungkin, kalimat intoleran macam begini ada juga di buku pelajaran lain atau di kurikulum yang sebelumnya berlaku. Semoga saja, tidak.

Ini bukan persoalan sepele. Masuknya paham intoleran ke dalam buku pelajaran perlu  di selidiki betul di mana letak bolongnya. Jika betul buku ini dibuat oleh penerbit Musyawarah Guru Mata Pelajaran, maka perlu diusut siapa di belakangnya. Adil itu harus sejak dalam pikiran, kata penulis besar Pramudya Ananta Toer. Begitu pula soal toleransi – itu juga mesti ada sejak dalam pikiran. Tanpa itu, generasi muda Indonesia bakal jadi generasi yang picik dan intoleran.

Dan itu sangat berbahaya.   

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!