Massa yang tergabung dalam Kesatuan Islam Indonesia Anti Sara (KIIAS) melakukan aksi unjuk rasa didepan patung kuda, Jalan MH Thamrin-Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (16/3).

Ideologi sudah punya jawaban, meski belum ada pertanyaan yang diajukan. Itu kata George Packer, seorang penulis asal Amerika Serikat.

Packer betul, bahkan dalam banyak hal, kekuatan sebuah ideologi adalah pada daya tariknya yang meski sering tampak irasional, namun mampu menyedot daya kritis pikiran orang yang meyakininya. Ideologi menyerupai sebuah labirin tanpa ujung yang disela-selanya menjanjikan keadaan lebih baik, tanpa kita tahu pasti apakah itu bakal tercapai atau tidak. Sekali masuk, sangat jarang orang bisa keluar seenaknya.

Ideologi hanya menuntut satu hal: keyakinan mutlak. Tanpa keyakinan ini, ideologi akan kehilangan magnetnya. Keyakinan ini pada akhirnya juga menuntut ketundukan total bagi para pengikutnya. Kalau perlu, untuk menjaga ketundukan itu, dibentuklah aparatus khusus yang dilengkapi sarana kekerasan. Disiplin dan ketundukan itu lantas tak bisa dipisahkan dari pemaksaan berbasis hukuman.

Barangkali itulah yang sedang kita hadapi sekarang dengan gerakan Negara Islam ISIS. Meski awalnya berawal di Irak dan Suriah, tapi ideologi ISIS mampu menarik minat banyak orang dari berbagai belahan dunia, tak terkecuali Amerika Serikat dan Uni Eropa. Juga di Indonesia.

Atas nama jihad, janji surga dan bertemu bidadari, sebagian warga Indonesia tampak tertarik untuk bergabung dengan ISIS. Apalagi menurut kepolisian, ada pula iming-iming santunan sebesar Rp 20 juta hingga Rp 150 juta per bulan bagi mereka. Tanpa daya kritis, betapa mudah iming-iming ini membetot kesadaran mereka untuk turut angkat senjata?

Berbagai publikasi tentang kekejaman kelompok ini, termasuk berbagai penyimpangan di dalamnya yang tak sesuai ajaran Islam, agaknya tak begitu efektif membendung niat mereka. Penangkapan 16 warga Indonesia di Turki mengindikasikan ideologi ISIS memang sudah masuk dan merasuki sebagian warga kita. Di Cianjur bahkan ada yang berani mengklaim sebagai Presiden ISIS untuk wilayah Indonesia. Mengherankan, sejauh ini aparat keamanan masih membiarkannya meski pemerintah Indonesia sudah menyatakan melarang penyebarluasan ajaran ISIS. (Baca: Mengaku Danai Calon Militan ISIS, Polisi Belum Tangkap Orang Ini)

Yang kita hadapi sekarang adalah sebuah ideologi yang tak hanya membahayakan, tapi lebih dari itu, menjadi ancaman bagi kemanusiaan. Karena itu, selain kampanye dan propaganda anti-ISIS, aparat keamanan harus berani bertindak tegas kepada para tokoh yang sudah terang-terangan memproklamasikan berdirinya ISIS di Indonesia. Tanpa ketegasan ini, penetrasi ideologi ini akan terus menggerogoti republik dan membodohi banyak umat.


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!