pencapresan Jokowi, jokowi calon presiden, Megawati tunjuk Jokowi

Setidaknya itulah yang kita lihat dari sosok sederhana yang meroket beberapa tahun terakhir. Pencalonan Jokowi hari ini (14/3) oleh Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati -- yang dibacakan Puan Maharani -- telah menjawab kesimpangsiuran informasi yang selama ini menggantung di benak banyak orang.

PDI Perjuangan memang merupakan salah satu partai yang diramalkan bakal mendulang suara besar, baik dalam pemilu legislatif maupun pemilu presiden, tahun ini. Di bawah kepemimpinan Megawati Soekarnoputri performa partai kian berkibar. Aktivis anti korupsi Teten Masduki, yang pernah dicalonkan partai ini bersama Rieke Dyah Pitaloka maju dalam Pilgub Jawa Barat, bahkan menilai, "Megawati sudah makin matang secara politik."

Penunjukan Jokowi sebagai calon presiden pilihan partai, diramalkan bakal kian mendongkrak peroleh suara PDI Perjuangan pada pemilu nanti.

Jokowi terdongkrak popularitasnya setidaknya karena dua alasan. Pertama, kekecewaan terhadap kinerja pemerintahan SBY yang sudah 10 tahun berkuasa. Ketidaktegasan dalam bertindak dan lebih mengutamakan pencitraan diri, menjadi faktor dominan wacana kritik publik terhadap SBY.

Pada saat yang sama di ujung pemerintahannya, muncul sosok Jokowi – bekas Wali Kota Solo yang kini memimpin Jakarta. Dan inilah alasan kedua: Jokowi menjadi antitesa dari sosok birokrat-feodal yang secara sempurna terwakili dalam sosok SBY, karena ia lebih “dekat” dengan sosok warga kebanyakan.

Kalau dalam formasi barisan SBY adalah sikap tegak sempurna, Jokowi adalah sikap istirahat di tempat. Tetap rapi dalam barisan, tapi dengan aura yang lebih santai. Lebih dari itu, Jokowi dinilai mewakili figur pejabat yang lebih mengutamakan kerja daripada berbicara.

Jokowi pun moncer dalam pemberitaan media, bahkan sejak ramai-ramai soal mobil SMK, meski akhir-akhir ini tak luput dari kritik ketika Jakarta dilanda banjir besar. Juga akibat kemacetan lalu lintas yang kian parah dan pengadaan bus Trans Jakarta yang bermasalah.

Toh publik paham, mengubah Jakarta memang tak semudah membalik telapak tangan. Butuh waktu, butuh keseriusan berlipat dan keberanian membuat keputusan.

Selain populer, sebagaimana ditunjukkan banyak survei, Jokowi juga dikenal bersih, ia tak segan melapor ke KPK jika ia mendapat hadiah, untuk menghindari tudingan mendapat gratifikasi. Jokowi tampaknya sensitif dengan ulah pejabat lain yang berulah sebaliknya.

Meski bukan kader yang sejak awal berada di dalam tubuh partai -- ia tak pernah jadi pengurus partai, Jokowi adalah aset PDI Perjuangan. Partai ini seharusnya bangga memiliki Jokowi. Dukungan penuh dari publik bisa dipakai PDI Perjuangan untuk melipatgandakan dukungan mereka kepada partai untuk memenangi pemilu.

Pencalonan PDI Perjuangan yang mengajukan Jokowi sebagai calon presiden sebelum pemilu legislatif 9 April memang diharapkan banyak kader berlambang kepala banteng ini. Khususnya kader-kader yang maju sebagai calon anggota DPR/DPRD, karena mereka berharap mendapat imbas magnet yang dibawa Jokowi. Tak heran kalau di banyak poster dan baliho, foto Jokowi dipasang bersama-sama caleg yang bersangkutan.

Pencalonan Jokowi sebagai calon presiden adalah berkah bagi para kader.

Pertanyaan selanjutnya: siapa yang bakal digandeng PDI-P untuk mendampingi Jokowi? Meski posisi wapres tak begitu sentral dalam sistem presidensial, sosok calon pendamping jelas akan mempengaruhi dukungan yang diperoleh Jokowi. Bukan tak mungkin, hanya gara-gara salah pilih pendamping, sebagian dukungan akan rontok.

PDI Perjuangan perlu hati-hati di sini.


*Penulis adalah wartawan. Isi tulisan ini sepenuhnya pandangan pribadi.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!