Hugo Chavez, Venezuela, Amerika Latin, sosialisme, kudeta


Kontroversi Chavez -- Tradisi Politik Amerika Latin dan Keberhasilan Sosialisme


Oleh Teddy Wibisana


Figur memikat seperti Chavez tentu akan menarik hati kita untuk lebih ingin mengetahuinya. Tetapi akan  bermanfaat jika kita mau lebih berupaya menggali dan mendalaminya secara utuh, agar  hal yang paling baik dapat kita petik.
 
Kontroversi Sejak Menuju Kekuasaan

Berita meninggalnya Hugo Chavez  banyak mendapat perhatian dunia termasuk di Indonesia. Dan Chavez pantas untuk mendapatkan perhatian tersebut. Ada 2 hal mengapa Chavez mendapat perhatian yang begitu besar. Pertama, kebijakan kekuasaannya dalam ekonomi dan politik yang populis di dalam negeri, serta inisiatifnya untuk meningkatkan peran politik Venezuela, di regional Amerika Latin maupun internasional, mengagumkan banyak pihak. Dan tindakan serta sikapnya dalam memainkan peran politik di regional dan internasional, dianggap kontroversi dengan arus utama sikap para pemimpin negara lainnya.  Sikap Chavez yang berbeda dengan sikap arus utama, membuat Chavez dianggap sebagai pemimpin yang berkarakter pejuang. Kedua, perjalanan kekuasaan Chavez juga kontroversial, dihiasi dengan usaha mengkudeta dan dikudeta. 

Chavez, lahir  pada tanggal 28 Juli 1954, bergabung dengan militer selama 17 tahun, dari tahun 1975 setelah lulus dari Akademi Militer Venezuela, sampai tahun 1992.  Tahun 1982, bersama para perwira militer lainnya membentuk kelompok gerakan dan menamai gerakannya dengan Simon Bolivar -- Bapak kemerdekaan Amerika latin yang memerdekakan Grand Colombia (Kolombia, Venezuela, Ekuador, Peru dan Bolivia) dari penjajahan Spanyol. Kelompok gerakan inilah yang melakukan 2 kali kudeta berdarah terhadap pemerintah Presiden Carlos Perez  pada bulan Februari dan September tahun 1992, yang disebutnya sebagai Revolusi Bolivarian. Kudeta pertama gagal, Chavez menyerahkan diri dan ditahan di penjara militer selama 2 tahun. Pemberontakan ke-2 dilakukan oleh kolega Chavez saat Chavez masih berada dalam tahanan militer, juga gagal.

Saat di penjara, karier militer  Chavez berakhir karena kudeta yang dilakukannya, dan mulai memasuki fase politik (dalam konteks sipil). Setelah keluar penjara, Chavez mulai terbuka berkampanye untuk presiden pada platform Bolivarianisme, suatu platform demokrasi kerakyatan yang melibatkan partisipasi massa dalam pemerintahan, kemandirian ekonomi dan nasionalisme yang kuat. Chavez berhasil memenangkan pemilu  langsung tahun 2008 dengan 56% suara, menggantikan Presiden Rodriguez. Chavez menjabat sebagai Presiden sampai sebelum meninggal pada tanggal 5 maret 2013.
 
Setelah tahun 1959, sebenarnya Venezuela mulai masuk tahap era demokrasi ketika  Betancourt Bello  dilantik sebagai Presiden Venezuela, hasil pemilihan langsung dengan dukungan 49% suara mengalahkan Wolfgang Larrazábal (35%) dan Rafael Caldera Rodríguez (16%), di mana pada  masa-masa sebelumnya, sejarah Venezuela diwarnai pemerintahan militer yang  dicapai melalui kudeta .  Presiden Betancourt menunjukan komitmen demokrasinya dengan mengeluarkan doktrin  bahwa Venezuela tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan negara-negara yang pemerintahannya dibentuk atas dasar kudeta militer.

Ini pilihan beresiko, dan terbukti Venezuela menjadi terisolasi, karena sebagian besar negara-negara Amerika Latin diperintah oleh rezim militer hasil kudeta. Jadi kudeta yang dilakukan Chavez tahun 1992, dapat dikatakan sebagai memulai tradisi penggantian kekuasan melalui kudeta, setelah 32 tahun Venezuela menjalani tradisi demokrasi politik modern, yang dimulai oleh Presiden Betancourt Bello  pada tahun 1959.  Ini seakan menjadi preseden, yang dialami oleh Chasvez sendiri, ketika  pada tanggal 12 April 2002 petinggi militer Venezuela yang dipimpin Jenderal Efraim Vazguez Velasco melakukan kudeta dengan memaksanya mundur dan menggantikannya dengan Pedro Carmona sebagai Presiden sementara, sebelum terlaksananya pemilu untuk memilih presiden secara definitif.  Dan kudeta itu hanya berlangsung 2 hari, karena ditolak oleh Jaksa Agung Isaias Rodriguez dan menyatakan pengangkatan Pedro Carmona adalah inkonstitusional dan Presiden Venezuela tetap Chavez
 
Sosialisme Chavez dan Amerika Latin
 
Chavez sangat yakin dengan jalan sosialisme dalam membangun negara dan masyarakatnya. Untuk itu Chavez mendirikan Gerakan Republik Kelima, sebuah organisasi kiri yang mempromosikan platform sosialisme demokratis Venezuela, yang disebutnya sebagai "Sosialisme Abad 21." yang intinya menolak tegas sistem kapitalisme dan imperialisme. Ternyata ini bukan sekadar retorika saja, tetapi dijadikan dasar untuk untuk membentuk konstitusi, sebagai acuan dalam mengeluarkan program sosial dan ekonomi di berbagai sektor (Pendidikan, Kesehatan, Pangan dll) yang diberikan kepada rakyat secara langsung.  Proses pembentukannya melalui jajak pendapat, masyarakat mengeluarkan usulan-usulannya secara langsung.  Konstitusi ini diberi nama Konstitusi Republik Bolivarian Kelima.
 
Selain mengeluarkan program sosial untuk masyarakat, Chavez juga mengeluarkan kebijakan ekonomi yang bersifat struktural di mana kepentingan kolektif masyarakat diutamakan. Ada 2 kebijakan yang dikeluarkan oleh Chavez dan dianggap kontroversi. Pertama dikeluarkannya Undang-undang Reformasi Kepemilikan Tanah, yang memberi kekuasaan pada pemerintah untuk mengambil alih tanah-tanah perusahaan-perusahaan real estate yang luas, dan lahan pertanian yang dianggap kurang produktif. Kebijakan ini memperbesar kontrol negara untuk memiliki dan mendistribusikan tanah kepada masyarakat yang membutuhkan. Tapi bagi para pemilik tanah yang haknya diambilalih, tentunya merugikan hak mereka. Dan ini mendorong gelombang protes yang besar di Caracas pada bulan April 2002.

Kebijakan kedua, ketika pada tahun 2007 Chavez mengeluarkan kebijakan perminyakan yang disebut banyak orang sebagai nasionalisasi perusahaan minyak asing. Kebijakan ini merupakan renegosiasi  untuk melakukan joint venture antara PDVSA (perusahaan minyak negara) dengan perusahaan-perusahaan asing, sehingga negara bisa  mendapatkan keuntungan sebesar 60 persen dari keseluruhan keuntungan yang diperoleh. Kebijakan perminyakan ini sangat strategis, karena keuntungan dari sektor ini diperlukan untuk membiayai program-program pro rakyat.  Sehingga slogan "minyak untuk pangan", "minyak untuk kesehatan" dan "minyak untuk pendidikan" sangat populer di mata masyarakat.
 
Sebenarnya kepercayaan terhadap gagasan sosialisme dan demokrasi sosial di Amerika Latin tidak hanya di Vennezuela. Di era yang sama dengan Chavez adalah pemerintahan demokrasi sosial yang diimplementasikan di Brazil di bawah kepemimpinan Lula dan penggantinya Dilma Rouseff, serta oleh Morales di Bolivia. Tapi sesungguhnya Allende lah yang mengawalinya pada tahun 1970 di Chili.  Sayangnya gagasan Allende belum berjalan sudah terjadi kudeta brutal oleh rejim militer Pinochet tahun 1973.  Dan saat ini Chili berada di bawah kepemimpinan Presiden Sebastian Pinera, juga didukung partai sosialis sebagai bagian dari koalisi partai  tengah kanan yang berkuasa.
 
Mengapa gagasan sosialisme mendapat tempat di Amerika Latin, dan mengapa gagasan itu menarik perhatian kita semua? Latar belakang negara-negara Amerika Latin yang pernah mengalami masa kediktaktoran rejim militer dalam waktu yang panjang, membuat gagasan demokrasi sosial  yang mengandung nilai keadilan dan kebebasan, mendapat tempat.  Latar belakang Chaves dari kalangan militer, dan pernah melakukan kudeta, tetapi kemudian setelah berkuasa justru menjalankan kebijakan populis, menjadi suatu hal yang menarik.
 
Dan kedua situasi politik di Amerika Latin selalu menarik diamati, mengingat secara geografis letaknya di beranda Amerika Serikat, negara besar yang memiliki pengaruh politik kuat di dunia.  Jika kebijakan di salah satu negara Amerika Latin berbeda dengan kebijakan Amerika tentu akan dianggap mengganggu stabilitas kawasan, dan akan memncing reaksi Amerika dan menjadi sorotan dunia internasional.
 
Ekonomi Chili, Brazil dan Venezuela
 
Tak ada yang salah dengan suatu gagasan dan kebijakan termasuk kebijakan populis,  selama masih bisa memakmurkan masyarakat secara berkelanjutan. Marilah kita melihat perekonomian ke-3 negara tersebut dengan beberapa indikator ekonomi. Data tahun 2010 menunjukan Chili dengan penduduk 18 juta jiwa, dan GDP/kapita mencapai USD 14,900 per tahun, merupakan negara termakmur tidak hanya dibandingkan dengan Brazil dan Venezuela, juga termakmur di Amerika Latin.  Tingkat inflasi  tinggi tapi tetap terkendali sebesar 8.7%.


Brazil dengan penduduk 192 juta jiwa, GDP/kapita mencapai USD 10,456/tahun, inflasi sangat terkendali sebesar 5%. Pertumbuhan ekonomi sekitar 1%. Brazil lebih hati-hati dan berkelanjutan dalam mengelola perekonomiannya, sehingga inflasi lebih terkendali. Jumlah penduduk hampir 200 juta, meski masih di bawah jumlah penduduk di negara kita, tapi mampu memiliki GDP/kapita yang besarnya 2,5 kali lebih besar dibandingkan GDP/kapita kita (USD 10,456/kapita/tahun). Hal itu tentu sangat menarik dijadikan model keberhasilan bagi kita. Model yang menunjukan pengelolaan ekonomi yang inovatif dan bersifat jangka panjang. Sebagai contoh Petrobrass, perusahaan minyak negara Brazil, saat ini justru perkembangan pendapatannya berasal dari bio-etanol bukan dari minyak bumi.
 
Venezuela, negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia untuk 27 juta penduduknya, memiliki GDP/kapita sebesar USD 12,496 (sangat tinggi, bandingkan dengan indonesia USD 3000/tahun) dan sayangnya inflasi tak terkendali mencapai 25%. Pertumbuhan ekonominya jalan di tempat, bahkan cenderung minus. Dari data tersebut menunjukan bahwa kebijakan Chavez baik bagi masyarakat untuk saat ini, tetapi tingkat inflasinya menunjukan perekonomian akan berbahaya di masa depan. Apalagi jika hanya tergantung dari kekayaan alam (migas) yang suatu saat akan habis.


Chavez sudah meninggal, sebagai pemimpin dia sudah berhasil mewariskan dasar kepentingan nasional dalam mengelola negara sebagai satu identitas. Tantangan ke depan tentu berbeda. Ini yang menjadi tanggungjawab penerusnya untuk menghadapinya.


*Penulis bekerja sebagai profesional pada sebuah grup perusahaan swasta, peminat kajian sosial demokrat

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!