sarongge, elang jawa

Kami melewati beberapa jalur rapuh saat berangkat ke air terjun Ciheulang. Di tempat-tempat itu, Kang Dudu selalu berdiri pada satu titik yang dirasa aman. Ia akan mengulurkan tangan, memastikan kami tak terpeleset. “Ayo jalannya mepet kiri, mepet kiri!,” teriak Kang Dudu, meminta kami berjalan merapat ke kiri kala melintasi tepian jurang di sebelah kanan.

Setiap kali bertemu jenis pohon yang masuk daftar adopsi, Kang Dudu selalu berhenti. Ia akan berdiri di samping pohon, menggenggam buahnya, lalu mulai menjelaskan. “Ini buah saninten,” ucapnya. Kami bergantian memegang buahnya.

Dari luar, bentuknya seperti rambutan. Hanya saja rambut-rambutnya tajam. Biji buah saninten bisa dijadikan kudapan. Bisa dimakan saat mentah, atau lebih dulu disangrai. “Seperti biji mete,” ucap Tosca.

Sepanjang perjalanan kami mendapat pengetahuan baru tentang hutan Gunung Gede-Pangrango, berikut pepohonan dan satwa yang hidup di sekitarnya. Sekali, kaki saya hampir menginjak bunga-bunga putih yang jatuh dari sebuah pohon. Saya memungut lalu mengamati bunga itu saat Kang Dudu tiba-tiba berkata singkat, “Itu bunga kileho.” Saya bahkan belum sempat bertanya.

Lepas dari jalur penuh pohon kecubung dan tanaman sejenis terung Belanda yang merunduk, kami sampai di kebun-kebun petani. Saya melihat beberapa petani sedang memindahkan bibit kol. Tubuh mereka terbungkus rapat oleh kaus berlapis jaket ditambah topi pada kepala.
Kami beristirahat sebentar di sebuah rumah mungil dengan pintu terbuka, namun tak terlihat satu pun orang di dalamnya. Tak sampai setengah jam kemudian, kami sampai di bawah air terjun Ciheulang. Sementara yang lain mandi di bawah guyuran airnya, saya dan Yulia Nadya, seorang relawan Sarongge, memilih duduk-duduk di dekat mata air.

Ada tujuh pancuran pipa di mata air. “Ini rasa airnya beda semua. Yang ini asam, ini manis, ini pahit,” kata Nana, panggilan Yulia Nadya, berkelakar seraya menunjuk masing-masing pipa.

Waktu bermain-main di air terjun selesai. Kami berjalan pulang lewat jalur yang berbeda. Tetap menyeberang Sungai Ciheulang, seperti saat berangkat. Namun, kali ini jalurnya lebih “serius.” Bentukannya cukup memabukkan, serupa khasiat tanaman yang menginspirasi penamaan jalur ini: Tanjakan Kecubung.

Lintasan Tanjakan Kecubung basah saat kami lewati. Tanah, ranting dan dedaun di bawah kaki membuat kami mesti lebih hati-hati memijak. Mengingat pula kelok yang berupa tanjakan, kehati-hatian kami kini harus lebih “serius”. Tak ada tangan yang memegang kamera. Hanya tongkat sebagai penguat pijakan, atau telapak tangan yang meraba-raba dinding jalur.

Ririen berjalan sebelum saya. Lepas dari Sungai Ciheulang, ia masih bisa berdiri memijak. Memasuki Tanjakan Kecubung, tubuhnya tak lagi bertegak. Ia mulai merunduk, lalu merangkak. Seperti saya. “Haduh… Kaki gue, kaki gue… ,” itu suara Ririen.

Di antara keluhan ringan siang itu, Izul yang berjalan mendahului kami mencoba berkelakar. Kami pun tertawa dan bersemangat merangkak lagi. Meski kemudian, saya sempat mendengar Ririen mengucap, “Kaki gue gemetar, kaki gue gemetar…” Sementara, Reynold yang mengantre di belakang saya menyanyi: “Pendaki gunung, sahabat alam sejati…”

Perjalanan sepanjang Tanjakan Kecubung yang perlu keseriusan namun mengasyikkan sudah kami tuntaskan. Di samping bekas rangka penaung para pemburu babi hutan, kami kembali beristirahat. Mendengar lagi kisah-kisah petualangan Kang Dudu, kelakar ringan serta gerisik dedaunan.

Siang itu di hutan Sarongge, kami dipenuhi kegembiraan.


Impian di Batas Hutan: Rumah Petani dan Elang Jawa (bagian: I)
Impian di Batas Hutan: Rumah Petani dan Elang Jawa (bagian : II)

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!