sarongge, elang jawa

Langit di luar jendela rumah pohon tampak memerah saat kami bangun. Matahari menyembul dari celah-celah Gunung Halang dan Gunung Geulis. Naluri alami muncul di Sarongge. Terbukti, pagi itu kami berpencar, berjalan berdua atau bahkan sendiri saja untuk mengeksplorasi kampung yang masuk kawasan Desa Ciputri ini.

Selesai eksplorasi yang pasti dijejali banyak pertanyaan, kami kembali berkumpul di tanah perkemahan. Saatnya menanam pohon adopsi. Kang Dudu membawa kami ke lahan di seberang tanah perkemahan. Di tempat inilah kami akan menanam.

Setelah mendengar petunjuk dari Kang Dudu, kami langsung sibuk mengelilingi keranjang berisi bibit pohon adopsi. Syarif, petugas di tanah perkemahan, ikut membantu kami. Ia mencatat nama-nama kami untuk keperluan pengiriman titik Global Positioning System (GPS).

Senang melihat telapak tangan penuh tanah dan pohon-pohon yang baru kami tanam. Sehat dan kuat ya, pohon-pohon…

Tak sampai dua jam kemudian, kami sudah berjalan di tengah-tengah ladang penduduk. Di ladang ini, Tosca dan teman-teman lain mengusahakan penghutanan kembali yang, tentu, tak selalu mudah. Ia sempat bercerita, banyak petani menolak ladang mereka ditanami pohon endemik Gunung Gede-Pangrango. “Masa-masa awal pendekatan itu cukup sulit. Mereka (petani) takut kehilangan ladang,” kata Tosca saat kami berjalan menuju tanah perkemahan, malam sebelumnya.

Persoalan ternyata bukan hanya itu. Petani, bagaimanapun, memahami betul siklus tanam hingga masa panen tiba. Mereka mengerti dan seperti terikat dengan waktu. Ketika pohon-pohon adopsi disertakan dalam ladang mereka, waktu panen bisa jadi terulur. “Usaha seperti ini (penghutanan kembali) memang butuh waktu bertahun-tahun,” sahutnya.

 
Lintasan Anggun Elang Jawa di Atas Pohon Suren

Air Terjun Ciheulang, tujuan perjalanan kami pagi itu, masih belum terlihat. Kata Kang Dudu, “Kita teh harus melewati tiga punggungan supaya sampai sana.” Punggungan yang dimaksud Kang Dudu adalah Pasir Tengah, Pasir Kidul dan Pasir Pogor. “Pasir teh punggungan kitu. Orang sini nyebutnya pasir,” ia kembali menyahut.

Saya melangkah di barisan belakang saat melihat teman-teman yang berjalan di depan tiba-tiba berlari-lari kecil ke dalam ladang kosong. “Ika, ada elang Jawa,” kata Reynold Sumayku dari arah belakang. Ketika saya tengok, ia sedang menatap langit.

Itu dia si elang Jawa. Saya melihatnya berputar-putar di atas pohon suren. Ia lalu terbang seperti pesawat sedang lepas landas, kembali mengitar, kemudian menukik dengan anggun.

Ketika elang Jawa tak lagi terlihat, Tosca mulai berkisah. Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), katanya, butuh pohon dengan tinggi sekitar 45 meter. “Ia perlu pohon tinggi, supaya bisa meluncur,” papar Tosca sambil memperagakan gaya meluncur lewat tangan kanannya.

Itulah mengapa elang Jawa suka sekali berdiam di pohon rasamala (Altingia exelsa) atau pasang (Lithocarpus sundaicus). Sementara, dua pohon yang dibutuhkannya justru semakin sulit ditemukan. Di seluruh Jawa, pada 2010, burung yang menjadi inspirasi simbol negara kita itu tinggal 600 ekor.  Dengan laju penurunan 22 pasang setahun, diperkirakan elang jawa akan punah 2025.  “Ya lagi-lagi, ini bukan soal mudah,” sahut Tosca. Penjelasan tentang elang Jawa ini saya temukan pula lewat akun twitter-nya, @toscasantoso.

Perjalanan berlanjut. Kontur mulai merapat. Tapi, menurut Tosca, tutupan hutan ini belum benar-benar baik. “Saya mau mengajukan izin untuk melanjutkan upaya penghutanan kembali sampai  55 tahun mendatang ke Kementerian Kehutanan,” ujar jurnalis senior ini di sela-sela perjalanan. Sambil menanti izin, Tosca dan petani terus menanam bibit pepohonan endemik di hutan Sarongge. Mereka berharap tajuk hutan Gede-Pangrango kembali rapat, elang Jawa selamat dan petani tetap punya penghasilan.


Impian di Batas Hutan: Rumah Petani dan Elang Jawa (bagian: I)
Impian di Batas Hutan: Rumah Petani dan Elang Jawa (bagian: III)

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!