sarongge, elang jawa

Sepintas lalu kenangan saya kembali pada kolecer, kepak anggun seekor elang Jawa serta tubuh yang merangkak sepanjang jalur Tanjakan Kecubung. Rangkaian ingatan yang selalu berhasil membuat saya tersenyum dan terkadang berhasrat untuk bertanya. Inilah ingatan akan Sarongge, kampung di batas hutan Gunung Gede.

Suatu malam pada Jumat yang dingin di tanah perkemahan Hutan Sahabat Green, Kang Dudu bercerita tentang sihir kolecer di Desa Sarongge. “Anak-anak sini mah suka sekali main kolecer. Mereka buat dan pasang kolecer di sawah-sawah sini,” kisahnya saat kami duduk dalam saung mungil yang terbuka.

Kami yang mendengar kata itu diucapkan serentak saling tatap. “Kolecer, kincir ceunah. Baling-baling,” sahut ketua Gabungan Kelompok Petani Sarongge (Gapoktan) itu menjawab tatapan bingung kami. Malam itu kami tertawa gembira mendengar cerita Kang Dudu tentang kolecer, kambing-kambing serta relawan di markas Green Radio.

Dudu Duroni, nama lengkapnya,  adalah salah satu perawat pohon adopsi di Hutan Sahabat Green. Ia dan beberapa petani Sarongge setiap hari  jalan naik-turun punggungan gunung untuk memastikan tanaman adopsi tumbuh sehat dan kuat. Mereka pula yang menanam pohon adopsi, bila “orang tua angkat” tak langsung datang ke Sarongge. Mereka menyulam tanaman, saat batang-batang mungilnya berhenti tumbuh.

Malam itu Kang Dudu bercerita tentang ki hujan (Engelhardia spicata), salah satu jenis pohon adopsi yang jumlah bibitnya cukup sedikit. Lengkung dahan dan rimbun daun yang mirip pohon trembesi kerap membuat penyuka tanaman salah pikir. “Jadi, mereka maunya menanam ki hujan di rumah. Tapi, sebetulnya yang ditanam adalah pohon trembesi. Atau, ada pula yang memang mengira nama lain trembesi itu ki hujan,” kata Kang Dudu.

Ada sekitar 200 pohon ki hujan di Sarongge. Namun, baru empat pohon yang telah sanggup berbunga. Tosca Santoso, pendiri Green Radio, menyambut, “Tahun lalu malah sama sekali tak berbunga.” Ucapan yang membuat saya terkenang, ya, apalagi kalau bukan puisi karyanya. Mengingatnya pun dengan samar-samar, sehingga mesti membuka lagi halaman-halaman novel Sarongge.

Tahun ini / ki hujan tak berbunga / putiknya rontok dikacau musim / limbung seperti jiwaku / yang terenggut jauh ke timur  / bersama pergimu.

Selain susah bibit, ki hujan ternyata cukup sulit tumbuh. Kang Dudu menduga kesulitan ini disebabkan cara pemindahan bibit ke lahan baru. “Mungkin cara mindahnya yang salah. Mungkin akarnya sensitif, enggak boleh terusik saat dipindahkan,” sahut lelaki yang rajin mengumpulkan petetan (anak-anak pohon) ki hujan.

Kisah tentang ki hujan beralih ke depan api unggun, masih dalam tanah perkemahan. Kang Dudu lagi-lagi berkisah tentang beragam kejadian yang membuat kami tertawa. Hebatnya, Kang Dudu bercerita tanpa tertawa. Wajahnya tetap serius sepanjang berbicara, meski kami mulai mengentakkan kaki karena tak tahan tertawa.


Impian di Batas Hutan: Rumah Petani dan Elang Jawa (bagian: II)

Impian di Batas Hutan: Rumah Petani dan Elang Jawa (bagian: III)

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!