Ekonomi perlu tumbuh untuk menyerap tenaga kerja…

Ada analis yang mengatakan, “Kenapa kok repot-repot? Nggak apa-apa kan pertumbuhan 4-5%? Oke, memang situasi sedang begini.” Ya memang tidak apa-apa. Tapi untuk menyerap 2,5 juta tambahan angkatan kerja setiap tahun, dilihat dari pengalaman ekonomi kita, kita perlu pertumbuhan di atas 6%. Nah, itu dia.

Kecuali kita terima pengangguran akan makin banyak. Atau ekonomi kita sebenarnya cukup lentur. Jadi jangan dianggap ekonomi kita itu begitu kaku sehingga dia selalu hanya bisa menyerap tambahan angkatan kerja kalau pertumbuhannya 6,5% atau bahkan 7%. Kalaupun pertumbuhan 5%, dia serap juga, tapi menyerapnya melalui sektor informal. Jadi, orang tetap berkerja. Kalau enggak kerja, ya nggak makan dia. Jadi bagaimana caranya? Ya apa sajalah di sektor informal, terima saja.

Ada satu gejala yang relatif positif, yaitu di sektor pertanian.  Jumlah rumah tangga pertanian, Rumah Tangga Petani istilahnya, itu selama periode 2003-2013 jumlahnya turun. Secara absolute turun jumlahnya, karena beberapa hal. (1) Kita punya saluran tenaga kerja dalam bentuk TKI. (2) Di pihak lain, memang proses perpindahan penduduk dari sektor pertanian ke sektor modern itu sudah berlangsung lama walaupun pelan. Sebetulnya indikasinya tidak susah. Perhatikan saja, apalagi ibu-ibu ini pasti tahu, mencari pembantu rumah tangga belakangan ini makin susah. Apalagi dari Jawa. Iya kan? Dapatnya dari Lampung. Di rumah saya, malah ada pembantu sekarang dari mana? Dari NTT.

Itu adalah petunjuk bahwa memang jumlah orang di sektor pertanian mulai turun. Itu berita bagusnya. Jadi walaupun secara total jumlah angkatan kerja yang masuk mencari kerja kira-kira 2,5 juta per tahun, akan tetapi pertambahannya itu tidak melulu dari sektor pertanian. Mereka datang ke perkotaan, hal ini terlihat dari data jumlah Rumah Tangga Petani yang terus menurun.

Kalau Anda lihat data sensus pertanian 2003-2013 akan terlihat dengan jelas betapa mereka-mereka yang mengolah tanah dengan luas di bawah 1.000 meter itu mulai pindah. Wah, sudah mulai turun dia. Itu gejala baik atau gejala buruk? Ada yang mengira, “Wah itu bahaya, kalau turun bagaimana?” Memang harus turun! Negara yang berkembang, jumlah orang di sektor tradisional, sektor pertanian, itu arahnya turun. Kalau enggak, ekonomi negara itu tidak bergerak sama sekali, dan itu akan membuat ruang lebih longgar di sana. Orang bekerja sedikit berkurang dengan jumlah luas tanah yang sama.

Nah, kira-kira latar belakang dari semua ini adalah gabungan dari cerita saya di atas. Ada satu lagi yang mau saya tambahkan. Mudah-mudahan Anda jangan jadi pesimis kalau saya cerita begini. Maksudnya bukan itu sebenarnya, tapi mencoba membacanya seobyektif mungkin.

Satu lagi yang kita saksikan sejak tahun 2012 sampai sekarang adalah ekonomi kita, walaupun terjadi perlambatan pertumbuhan, tapi turunnya tidak drastis. Jadi sebetulnya ekonomi kita dilihat dari segi pertumbuhannya tidak terlalu volatile, tidak terlalu naik turun, relatif stabil. Turun tetapi tidak drastis.

Namun di pihak lain, kalau Anda lihat kurs, kalau Anda lihat nilai tukar itu volatile sekali. Dilihat dari tahun 2012 sampai sekarang, sebentar-sebentar ada kecemasan. Iya kan? “Kecemasan” bahasa Indonesia, bukan bahasa Malaysia. Kalau bahasa Malaysia, “Kecemasan” lain artinya. Ruang Kecemasan, dia bilang, artinya adalah Ruang Gawat Darurat....(tertawa).

Investasi seharusnya dibiayai oleh tabungan. Tapi karena tabungan dalam negeri kita rendah, kita harus meminjam dari luar negeri. Di masa Orde Baru, Debt Service Ratio (DSR) Indonesia dijaga tidak lebih dari 20%. Saat ini, DSR kita lebih dari 50%

Kenapa kita begitu volatile di keuangan khususnya nilai tukar dan tingkat bunga? Karena di sana, sebetulnya kita sangat kurang. Secara globalnya kira-kira begini. Semua orang tahu, investasi itu harus dibiayai dengan tabungan. Iya kan? Semua orang tahu itu. Dibiayai dengan saving. Kemampuan kita membentuk tabungan agak jauh di bawah kebutuhan investasi kita.

Kalau itu terjadi, maka pilihannya hanya tinggal dua. Kita rela menerima pertumbuhan yang rendah supaya bisa dibiayai oleh investasi yang berdasarkan tabungan kita. Masalahnya adalah yaitu kita perlu pertumbuhan yang agak tinggi, 6% lebih itu. Terus bagaimana? Kita harus pinjam.

Kita harus mengundang dana dari luar kalau pinjam sudah nggak cukup. Dan memang tidak cukup. Pinjaman bukan hanya oleh pemerintah, ya. Kalau Anda perhatikan, pertumbuhan pinjaman yang paling cepat justru oleh swasta ke luar negeri. Sehingga sejak dua tahun yang lalu, pinjaman swasta sudah melebihi pinjaman pemerintah.  Dan yang namanya Debt Service Ratio (DSR) --rasio antara pembayaran bunga dan pokok utang yang jatuh tempo dibagi dengan ekspor itu namanya Debt Service Ratio-- sudah meningkat dengan cepat.

Dulu di jaman orde baru, kita memelihara DSR jangan lebih dari 20%. Dia kemudian mencapai 30% pada waktu kita krisis 1998. Sekarang angkanya sudah tinggi sekali. Sudah berada pada angka 50% lebih.

Swasta pinjam. Pemerintah pinjam. Nggak cukup juga. Undang investasi asing, nggak cukup juga. Kita harus mengundang dana segar dari luar, yang main di pasar modal dan main di surat utang. Sehingga di surat utang kita ada 38% dana asing, padahal ini surat utang dalam negeri. Di pasar modal kita ada dana asing mungkin 60%. Di negara lain berapa? Di Thailand itu kira-kira 12-14%. Maka, tidak heran kalau ada dana asing pergi sedikit, langsung kursnya goyang.

Paket deregulasi dimaksudkan untuk menangkal perlambatan ekonomi yang masih terus terjadi. Investasi dipermudah dan kepastian usaha semakin jelas. Ekspor didukung dan ekonomi rakyat digerakkan…

Kembali ke persoalan apa yang kemudian kita lakukan menghadapi volatilitas dan perlambatan di bidang keuangan, kurs dan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Penjelasan tadi menunjukkan, diperlukan sesuatu yang agak cepat menunjukkan hasil. Ya secepat-cepatnya yang dilakukan adalah paket-paket deregulasi. Jadi, kalau Anda perhatikan paket-paket deregulasi kita itu, maka yang pokok pertama yang banyak dilakukan adalah menyangkut investasi, ekspor dan termasuk di dalamnya persoalan seperti infrastruktur. Jadi kita mengeluarkan peraturan pemerintah untuk proyek-proyek strategis.

Dalam paket deregulasi, kita mengeluarkan perubahan peraturan perundangan untuk harga gas, kita mengeluarkan peraturan perundangan untuk investasi, kawasan industri, kita mengeluarkan kemudahan dalam peraturan untuk kawasan ekonomi khusus.

Yang namanya kawasan itu ada beberapa, ada inland free trade, ada lagi nanti pusat logistik berikat. Itu semua kawasan. Kenapa itu semua agak fokus pada kawasan, karena biasanya yang makan waktu lama adalah izin Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Kalau sudah ada AMDAL kawasan, tidak perlu lagi izin satu per satu.

Rencana Detil Tata Ruang (RDTR) nya pun sudah sangat rinci, termasuk RDTR nya sudah ada di kawasan, berbeda dengan investasi di luar kawasan. Untuk infrastruktur juga begitu. Kita bahkan sudah mulai mengumumkan adanya Perpres untuk pembangunan kilang. Anda tahu, kita membangun kilang terakhir 25 tahun yang lalu. Ada banyak orang yang senang tidak ada kilang di sini, sehingga perlu waktu lama agar kita bisa membangun kilang lagi.

Harga komoditas tahun 2016 depan relatif masih rendah. Penerimaan pajak juga tidak bisa didongkrak karena kita mengandalkan penerimaan pajak perusahaan, bukan perorangan. Di saat ekonomi melambat, keuntungan perusahaan pun turun dan penerimaan pajak kita terganggu….

Kalau kita lihat bulan-bulan terakhir tahun 2015 ini, sebetulnya ada indikasi bahwa ekonomi mulai menggeliat. Perhatikan misalnya pertumbuhan yang sedikit membaik, neraca perdagangan yang --ya, memang ironisnya agak defisit-- tetapi itu menunjukkan impornya mulai bergerak. Itu adalah indikasi bahwa ekonomi mulai menggeliat.

Jadi sebenarnya di 2016 kebanyakan ahli dan peneliti memperkirakan belum ada peningkatan harga-harga komoditas. Situasi itu masih tetap akan kita hadapi. Yang kedua, pengalaman kita menunjukkan kalau ekonomi melambat penerimaan pemerintahnya itu melambatnya lebih cepat. Jadi dia tidak simetris, kalau ekonomi naik, naik juga penerimaan. Kenapa begitu? Karena yang mendominasi penerimaan pajak kita berasal dari perusahaan.

Kalau perusahaan, begitu ekonomi melambat profitnya langsung turun drastis dan berarti penerimaan negara juga melambat. Berbeda kalau penerimaan didominasi oleh pajak perorangan, seperti di negara yang lebih maju. Negara yang lebih maju ditandai dengan besarnya penerimaan dari personal income. Yang namanya gaji, biar ekonomi melambat, jaranglah gaji turun. Kalau gaji diturunkan, ngamuk orangnya.  Biasanya yang terjadi adalah pemutusan hubungan kerja (PHK), bukan gajinya yang turun. Akibatnya apa, kalau suatu negara penerimaannya sudah didominasi oleh pajak perorangan maka dia lebih simetris naik dan turunnya.

Nah bagaimana ke depan? Ke depan yang kita lakukan adalah meneruskan apa yang relatif berhasil pada tahun 2015 ini. Di satu pihak kita mendorong lebih jauh pelaksanaan dari investasi infrastruktur. Supaya berhasil, ya memang perlu perbaikan peraturan, deregulasi dan sebagainya. Seperti apa misalnya? kita sudah mengeluarkan formula untuk upah minimum sehingga bisa diprediksi, walaupun belum 100% comply setiap provinsi, tetapi sekarang kita punya formula itu sehingga bisa diprediksi tahun 2016 akhir berapa kenaikan gaji buruh. Tinggal anda kalkulasi berapa pertumbuhan ekonomi dan berapa inflasi.

Apa kelebihannya kalau bisa diperkirakan dan dihitung? Investor jauh lebih mudah mengambil keputusan, akan beda dengan kalau investor menduga-duga, tahun depan gimana ya? Nah kalau kita bisa melakukan hal yang sama, misalnya untuk tarif listrik, kapan dan berapa kenaikan tarifnya, tentu akan makin memberikan kejelasan dan kepastian kepada investor.

Salah satu area yang belum kita sentuh untuk deregulasi adalah perizinan di daerah. Mau tidak mau, kita harus masuk ke area itu, ya mungkin sedikit lebih ramai, karena pemerintah otonom yang dihadapi. 

Baca bagian pertama di sini, dan bagian kedua di sini . 

Diambil dari paparan Menko Perekonomian Darmin Nasution dalam penjelasan kepada media.   

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!