Berkah harga komoditas sudah tidak ada lagi. Harga-harga komoditas sekarang turun, termasuk harga BBM. Lalu kita sadar bahwa kita tidak membangun industri manufaktur…

Nah, sayangnya memang pada waktu itu, pemerintah juga cukup menikmati supply dolar yang banyak itu. Karena begitu dollar masuk, dia mau tidak mau ditukar ke rupiah dan supply rupiah juga meningkat dengan cepat. Jadi kalau saudara-saudara ingat pada waktu itu, kredit perbankan itu pertumbuhannya setahun bisa 40%. Itu luar biasa sekali. Sayangnya pada waktu itu tidak tercapai kesepakatan bahwa arus ini harus agak ditahan karena kita juga menerbitkan surat utang yang memerlukan demand.

Nah, dalam periode yang sama terjadi pula siklus naik, siklus meningkat dari harga komoditi hasil Sumber Daya Alam. Bersamaan juga dengan munculnya ekonomi Tiongkok dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi sehingga permintaan terhadap hasil-hasil Sumber Daya Alam semakin meningkat, dan boleh dikatakan itu suatu super siklus di dalam harga dan permintaan dari hasil-hasil Sumber Daya Alam.

Sebetulnya kalau kita boleh mengulang sejarah, periode itu semestinya dimanfaatkan untuk mendorong lahirnya industri manufaktur. Nah, kenapa tidak terjadi, karena pertumbuhan ekonomi kita sudah lumayan tinggi pada waktu itu, sudah di atas 6%. Dan harga komoditi yang terus menerus naik membuat neraca pembayaran kita, transaksi berjalannya itu surplus. Jadi ideal sekali memang terlihat bahwa pertumbuhan yang relatif tinggi dibarengi dengan transaksi berjalan yang surplus. Sehingga ya apalagi kurangnya? Kira-kira begitu.

Jadi tidak cukup lagi motivasi untuk mendorong lahirnya sektor industri manufaktur. Bukan berarti tidak lahir, tapi tidak berkembang. Ada, tetapi sektor yang memanfaatkan permintaan dalam negeri. Jadi kalau dilihat investasi di sektor industri pada waktu itu, --apakah itu investasi dari luar ataukah dari dalam negeri-- investasinya itu diarahkan ke pasar dalam negeri. Walaupun begitu, transaksi berjalan tetap positif.

Tentu hal ini tidak bisa berlangsung terus menerus begitu. Siklus itu akhirnya mulai terganggu dan terus menurun dimulai dengan pindahnya krisis itu ke Eropa sehingga kita melihat bahwa Uni Eropa sempat terancam pecah karena ada persoalan di dalam. Tapi kemudian memang tekanan krisis pindah ke sana.

Saya ingat siklus naik itu mulai berbalik menjadi siklus turun, di dalam komoditi Sumber Daya Alam, sejak krisis Yunani terjadi. Itu terjadi pada kuartal terakhir tahun 2011. Sejak itu sampai sekarang yang kita hadapi adalah siklus turun dari hasil-hasil Sumber Daya Alam.

Nah, kira-kira dengan latar belakang seperti itu, pada waktu pemerintahan baru naik, apa yang dihadapi sebetulnya adalah tidak punya sektor industri yang cukup untuk digerakkan sementara sektor penghasil Sumber Daya Alamnya merosot dengan penurunan harga yang berlaku sampai hari ini dan bahkan sampai tahun depan.

Dengan kondisi ekonomi yang seperti ini, apa yang dilakukan pemerintah?

Semua menyadari bahwa perlambatan ekonomi kemudian terjadi di dalam negeri dan perlambatan itu sudah mulai terlihat sejak tahun 2012. Secara global, yang pertama-tama sebetulnya mungkin begini penjelasannya. Untuk menjawab situasi demikian, di ranking pertama yang harus dilakukan adalah mendorong ekspor.

Sayangnya tidak ada yang bisa didorong. Tidak ada yang bisa didorong karena andalan hasil Sumber Daya Alam sedang merosot. Industrinya tidak cukup kuat, tidak cukup basis untuk itu. Ya sehingga pilihan sudah tinggal dua lagi urutannya. Satu, investasi terutama mengundang investor dari luar. Yang kedua, pengeluaran pemerintah. Investasi juga itu, belanja barang pemerintah.

Diakui atau tidak, APBN kita kemudian didesain sangat optimis karena semangat untuk mendorong kegiatan ekonomi itu kembali melalui belanja barang pemerintah. Sedangkan dalam hal investasi, disadari bahwa dunia memang sedang tidak begitu berminat untuk melakukan investasi. Satu-satunya cara adalah mencoba menawarkan infrastruktur yang kemudian ditawarkan kepada perusahaan-perusahaan atau bahkan negara-negara lain. Jadi bukan mekanisme pasar yang normal yang ditempuh. Menawarkan pembangkit listrik 35.000 MW, misalnya. Kita mengundang investor dari China, dari Tiongkok, dari Jepang dan dari Timur Tengah. Juga menawarkan pembangunan Pelabuhan dan kereta api, ingat kan Kereta Api Cepat, termasuk Kereta Api Ringan. Intinya adalah mengundang dana masuk. Itu bisa terjadi, tapi tidak bisa cepat. Investasi ratusan juta dolar untuk satu investasi, pasti memerlukan waktu bahkan meminta berbagai kemudahan. Baru investornya tertarik.

Kalau Anda ingat, harapan terhadap peranan pengeluaran pemerintah itu cukup tinggi. Bukan hanya terlihat dari target APBN yang cukup ambisius, tetapi pada waktu kuartal kedua tahun 2015, ada suatu harapan bahwa dana akan keluar pada akhir kuartal ketiga. Ya, jangan anggap langsung keluar pada kuartal kedua juga.

Saya rasanya sudah mulai bergabung di pemerintahan pada waktu itu, pada bulan Agustus-September tahun 2015. Harapan bahwa pertumbuhan akan didorong naik oleh pengeluaran, terlalu optimis. Keluar angka pertumbuhan 4,7% tapatnya 4,67%. Nah, pada waktu itu sebenarnya disadari betul bahwa kita sangat memerlukan investasi masuk. Kita harus menarik investasi masuk. Caranya bagaimana? Reformasi struktural, deregulasi. Kita praktis tidak punya hal lain lagi selain mencoba mengundang investor dengan memberikan sweetener 

Bersambung ke bagian ketiga  

Baca bagian pertama di sini

Diambil dari paparan Menko Perekonomian Darmin Nasution dalam penjelasan kepada media.   

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!