Untuk memahami deregulasi dan prospek ekonomi Indonesia ke depan, kita harus memahami latar belakangnya.

Sebetulnya apa yang kita hadapi sekarang ini di dalam perekonomian kita adalah gabungan dari dinamika global dengan apa yang kita kembangkan dan bangun paling tidak selama beberapa belas tahun terakhir, setelah krisis Asia tahun 1998. Sebetulnya boleh dikatakan, kita sudah mulai pulih dari dampak krisis 1998 pada sekitar tahun 2004-2005. Saya ingat waktu itu, saya masih menjabat sebagai Dirjen Pajak, awal tahun 2006. Pada waktu itu kemudian terjadi krisis keuangan di Amerika Serikat tahun 2007 dan dampaknya pada perekonomian kita baru muncul pada tahun 2008.

Kejadian tersebut sebetulnya pengaruhnya cukup dalam pada perekonomian Amerika Serikat. Dan semangat untuk melakukan reformasi struktural itu juga tinggi. Kalau saudara-saudara masih ingat, tahun itu dan beberapa tahun sesudahnya, ada banyak demo-demo bahkan orang menginap di Wall Street untuk memprotes gejolak yang kemudian dikaitkan dengan sektor keuangan yang sudah terlalu bergerak jauh.

Di sana sendiri memang cukup kuat pandangan bahwa sektor keuangan --yang berkembang dengan berbagai instrumen dan derivatifnya-- melahirkan ketimpangan yang boleh dikatakan luar biasa. Namun menariknya, Amerika Serikat kemudian mampu mencari jalan keluar dengan Quantitative Easing yang kita kemudian kenal.

Mereka kemudian mengeluarkan likuiditas besar-besaran membeli berbagai aset di dalam perekonomiannya untuk melakukan penyelamatan. Sebetulnya langkah itu langkah yang tidak lumrah di dalam khasanah ekonomi dan keuangan karena tingkat suku bunga kemudian didorong mendekati nol. Baru kemarinlah tingkat bunga dinaikkan dari 0.25% menjadi 0.50%.

Nah, sebagai hasilnya, supply US dollar meningkat secara tajam. Ibarat air bah, dia mencari tempat-tempat yang lebih rendah untuk mengalir. Artinya, dia mencari tempat investasi yang memberikan imbal hasil yang relatif menarik dan itu tempatnya, pada umumnya, di negara-negara berkembang. Istilah yang dipakai malah negara emerging supaya lebih keren kedengarannya.

Saya ingat periode itu, karena waktu itu saya adalah Gubernur BI. Yang namanya dana itu  bergelombang-gelombang datang dan mendorong rupiah menjadi kuat sekali bahkan pernah mencapai Rp.8.500,00 per US Dollar karena supply dolar-nya datang begitu besar dan terus menerus. Dalam periode itu kita bersama-sama Menteri Keuangan sebetulnya sudah menyadari bahwa ini nggak boleh terlalu jauh, karena pada saatnya dia pergi, kita akan menghadapi masalah lagi. 

Bersambung ke bagian kedua

Diambil dari paparan Menko Perekonomian Darmin Nasution dalam penjelasan kepada media.  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!