Ilustrasi/Danny Setiawan

Seandainya Euro, Poundsterling, Dolar, Yen, dan mata uang lain memiliki agama, apakah mereka tetap bisa masuk ke Aceh pada periode tanggap darurat Tsunami? Akankah kita sensor mata uang itu dari rekening yang mengalir ke Aceh?

Apakah selimut, susu anak, tenda, makanan, obat, kita larang diterima oleh para korban Tsunami karena mereka dikirimkan oleh para non muslim? Toh, kita tidak menolak dokter non muslim yang membantu para korban Tsunami.

Mengirimkan putra putri terbaik menuntut ilmu dinegara “non muslim”.

Sampai hari ini, orang muslim masih tinggal di perumahan Budha Tzu Chi, Panterik, Banda Aceh.

Rabu, 7 Januari 2015, Serambi Indonesia menurunkan berita pada halaman pertama: “UIN jatuhi sanksi pada dosen pembawa mahasiswi ke gereja”. Berita pada halaman yang sama berjudul “Rosnida Sari belum mau berkomentar”.

Euphoria menyebabkan pola kekerasan. Brutalisme.

Bagaimana negara mengontrol ini? Kejahatan negara adalah ketika brutalisme ini berlangsung, negara mengambil posisi aman. DIAM.

Yang harus sama-sama kita pahami adalah Sari tidak sedang melakukan hal yang salah.  Dalam hal keilmuan, apa yang dilakukan Sari bukan hal yang baru atau melanggar prinsip-prinsip  akademik. Apa yang dilakukan oleh Sari sudah pernah dilakukan oleh dosen-dosen senior jauh sebelumnya.

Sebagaimana orang Muslim pergi berkunjung ke Candi Borobudur. Masuk ke dalamnya, berfoto dan memposting di media sosial. Bukankah Candi Borobudur juga memiliki asosiasi kuat dengan agama tertentu?

Apa yang dialami Sari bukanlah kasus yang pertama. Hal serupa pernah menimpa  Mirza Alfath, Dosen Fakultas Hukum  Universitas Malikul Saleh, Lhokseumawe sekitar 2012.

Yang menjadi masalah Sari adalah kecerdasannya. Kecerdasan yang belum mampu dipahami oleh orang Aceh pada umumnya. Orang yang enggan membaca teks dan memahami konteks.

Dalam kasus ini kita harus mendukung proses musyawarah yang berlangsung secara internal di Fakultas Dakwah dan rektorat UIN Ar-Raniry. Mendukung terciptanya proses pendidikan yang terbuka dan menghargai keberagaman.

Semoga alasan menegakkan agama tidak lagi menjadikan masyarakat kita antipati kepada judul berita. Tanpa membaca isi berita, tanpa klarifikasi kepada Sari atau pihak terkait. Main tekan share dan berkomentar yang tidak perlu.

Agama Islam itu membawa kesejukan, kesenangan, happiness. Nabi tidak menghunus pedang ketika mengajak orang masuk ke dalam Islam. Yang harus dilakukan adalah mengembangkan Islam yang humanis. Kalaupun terjadi prokontra, bersikaplah waspada, dingin kepala. Tidak terpancing.

Selamat kepada Rosnida Sari, Dosen UIN Ar Raniry yang sukses menjadi trending topic kita minggu ini.

Penulis adalah sahabat Rosnida Sari.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!