agama, toleransi, Universitas Pembangunan Jaya, icrp

Toleransi penting bagi Universitas Pembangunan Jaya (UPJ). Bertolak pada hal tersebut, UPJ menjalin kemitraan dengan Indonesian Conference for Religion and Peace (ICRP) dalam pelaksanaan mata kuliah Agama berkat reputasi organisasi tersebut di bidang interfaith dialogs. Perencanaan perkuliahan dilakukan bersama dengan memperhatikan rambu-rambu pemerintah, arahan jajaran pimpinan UPJ serta pengalaman ICRP.

Pelaksanaan perkuliahan dimulai dengan pendekatan reflektif dimana mahasiswa menuliskan biodata dan tentang pengalaman mahasiswa mengenal agama baik yang dia atau orang lain anut – melalui proses pribadi maupun dalam konteks sosial. Proses berikutnya adalah ekskursi – melakukan kunjungan ke berbagai rumah ibadah antara lain Masjid, Kathedral, Gereja, Pura, Vihara, Lithang, Klenteng dan Gurdwara dengan diskusi dengan pemuka agama tuan rumah.

“Saya belum pernah sedekat itu dengan ajaran-ajaran agama yang berbeda. Mungkin saya bisa mendapatkan ilmu mereka dari Intenet, tetapi perasaan welcome dan intimacy yang saya dapatkan dari para pemuka agama adalah suatu pengalaman yang belum pernah saya dapatkan dalam kehidupan saya sebagai seorang manusia,” demikian salah satu mahasiswa UPJ menyampaikan pengalamannya.

Setelah itu, mahasiswa juga mendapatkan kuliah tamu dari pemeluk kepercayaan antara lain Kapribaden dan Sunda Wiwitan. Keseluruhan pengalaman dituangkan dalam tulisan reflektif berbentuk opini. Di akhir perkuliahan, mereka bekerja dalam kelompok heterogen – berbeda Program Studi, agama maupun gender. Tugas akhir mereka adalah membuat kampanye toleransi – baik berbentuk poster, kaos, iklan layanan masyarakat maupun film dokumenter.

Hasil evaluasi pembelajaran adalah sebagai berikut. Berdasarkan analisis tekstual atas tulisan karya mahasiswa, teridentifikasi tema-tema yang menunjukkan adanya perilaku perspective taking – melihat berdasarkan sudut pandang orang lain, yaitu kemampuan kognitif yang menjadi dasar empati. “Ketika menyadari bahwa Sikh bukanlah agama yang diakui di Indonesia sehingga para penganutnya harus mengaku Hindu, Islam, Kristen atau yang lainnya, saya merasa hal seperti ini tidak seharusnya terjadi… Jika saya berada dalam posisi mereka, saya pun sulit menerima kenyataan bahwa saya harus mencantumkan agama lain agar seolah-olah menjadi agama saya,” demikian ditulis oleh salah satu mahasiswa UPJ. 

Pengalaman mahasiswa UPJ disajikan dalam Seminar Nasional Merajut Damai dengan Pendidikan Humanis di Perpustakaan Nasional 12 Desember 2012 dan 10th Biennial Conference of Asian Association of Social Psychology (AASP) 21-24 Agustus 2013. Pengalaman mahasiswa melakukan ekskursi dan menyusun karya bersama diolah menjadi berita di situs ICRP maupun UPJ, juga dimuat di harian Jawa Pos dalam artikel opini pendek. UPJ men-display poster karya mahasiswa di selasar, perpustakaan maupun ruang rapat sebagai pembentukan atmosfir akademik. Dalam waktu dekat, ICRP bersama dengan Penerbit Gramedia akan merilis tulisan testimoni karya mahasiswa UPJ.

Seluruh proses ini dapat berlangsung karena dukungan kuat dan konsisten dari Yayasan, Manajemen dan Rektorat – yang terbuka termasuk untuk melakukan dialog terbuka terus menerus. Upaya menumbuhkan bibit toleransi merupakan proses yang perlu terus menerus dirawat demi menyemai toleransi menuju Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika.

Penulis adalah Dosen Program Studi Psikologi dan Kepala Unit Liberal Arts, Sustainable Eco Development dan Entrepreneurship Universitas Pembangunan Jaya (UPJ).

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!