Pagi itu, aku baca berulang-ulang nama Tran Thi Bich Hanh, warga negara Vietnam yang masuk dalam daftar enam terpidana mati kasus narkotika yang akan dieksekusi pada Minggu, 18 Januari 2015. Seakan tak percaya, aku baca berkali-kali. Untuk menambah yakin, aku BBM beberapa teman mantan napi yang dekat denganku. Dan mereka semua menyatakan “Iya, Asien, atau Tran Thi Bich Han, sesaat lagi akan dieksekusi mati.” 


Sepanjang periode 2013-2014, aku bersama komunitas komedianku, Komunitas Insan Lucu-Lucu Semarang (KILLS) aktif keluar masuk lapas untuk melatih napi-napi wanita dalam kegiatan seni, khususnya komedi. Kami pernah bekerjasama membuat beberapa kompetisi lomba lawak wanita dan opera komedi di dalam lapas wanita. Karuan saja, segala tentang mereka pasti menyita perhatianku. Terutama Asien, yang memiliki kedekatan pribadi denganku. Segala kenangan tentang Asien hadir kembali. 


Jahit Dompet, Tas


Asien, perempuan eksotis berwajah oriental, siang itu tampak ceria menyambut kedatanganku.  Dari kejauhan perempuan asal Vietnam itu  sudah melambaikan tangannya ke arahku. Dia selalu girang melihat kedatanganku ke Lapas Wanita Semarang. 


“Bu Shinta, aku di sini dulu ya!” teriak Asien dari ruang ‘kerja’-nya. 


Tiap hari Asien mengisi hari-harinya dengan menjahit dompet, tas dan sejenisnya. Dia terpaksa ‘menikmati’ kegiatan yang selama ini jauh dari kehidupannya. Dan pastinya tak pernah dia lakukan sebelumnya. 


Hasil menjahit tas, dompet, kaos kaki ini cukup lumayan. Satu pasang kaos kaki dihargai Rp 7 ribu oleh pihak lapas. Produk-produk hasil olahan Asien dan napi-napi wanita lainnya  itu nantinya dipasarkan secara komersil kemanapun. Dari penjualan itu, Asien bisa mendapatkan uang dan bisa ‘bergerak’ memenuhi kebutuhannya selama di penjara.  


Sebagai napi asing, Asien mengaku tidak mudah hidup di penjara negara orang.  Akses kiriman dana dari keluarganya tidak selalu lancar.  Selain faktor jarak, juga faktor ekonomi keluarganya. 


“Dulu awal-awal, aku masih sering dikirimi sama kakakku dan keluargaku, sekarang jarang,” ujar Asien suatu hari. Karenanya Asien memaksimalkan tenaga dan fisiknya di ruang Bimker, atau bimbingan kerja lapas wanita. ‘Keahlian dadakannya’ menjadi penjahit dia tukar hasilnya dengan recehan-recehan rupiah yang bisa dia gunakan untuk beli sabun, shampo, atau jajan di dalam lapas. 


Asien tergolong dekat denganku. Selama aku beraktifitas di lapas bareng temen-teman dari Komunitas Insan Lucu-Lucu Semarang(KILLS) untuk mengajar drama komedi di lapas,  Asien kerap mencuri perhatianku. Setiap aku datang dia selalu memeluk dan menciumku atau memberiku sepotong kue yang dia bawa dari kantin. Dan memberi sinyal lebih untuk membuka  ruang dialog berdua denganku. 


Dari sikapnya yang lembut, sopan dan periang, secara pribadi aku sebenarnya simpatik kepada Asien – terlepas apa pun kesalahannya. 


Dia salah satu napi wanita asing yang divonis hukuman mati karena terlibat jaringan narkoba internasional. Asien menyelundupkan 1,104 kilogram sabu senilai Rp 2,2 milyar ke Indonesia lewat bandara Adie Soemarmo Solo. Dan ditangkap petugas bea dan cukai di bandara tersebut. 


Dan akhirnya pada tahun 2011 Asien diganjar hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Boyolali, tempat dia ditangkap. Vonis PN Boyolali lebih tinggi dibandingkan tuntutan jaksa hukuman seumur hidup dan denda 8 miliar. 


Selain melalui Bandara Adi Soemarmo, Asien yang memiliki nama asli Tran Thi Bich ini juga menyelundupkan narkoba melalui ba  ndara Polonia,Medan. Dan ini sudah ke 9 kalinya, dia masuk ke wilayah Indonesia dengan membawa narkoba. 


Jurnalis Vietnam 


Usai pelatihan drama komedi dan menggelar kontes komedian di lapas wanita Semarang, aku masih sering main ke lapas untuk melengkapi data-data kegiatanku. 


Suatu siang, aku punya banyak waktu duduk berdua dengan Asien di ruang kerjanya, depan mesin jahit di ruang bimbingan kerja lapas wanita. Sebenarnya aku cukup hati-hati dalam mengorek hidup Asien. Takut dia tersinggug, terluka dan sejenisya. Tapi dugaanku salah! Asien justru sangat terbuka dan ringan menceritakan kehidupannya. 


“Umurku 37 tahun. Aku punya keluarga di Vietnam. Suami dan 3 anak,” kata Asien memulai ceritanya dalam bahasa Indonesia campur Inggris logat Vietnam.  Aku terus menyimaknya. “Aku tidak pernah mencari kesalahan orang, ini kesalahanku. Tak penting aku bersedih. Aku harus menjalani ini,” kata Asien tegar. “Prosesku masih berjalan,” tambahnya kala itu. 


“Boleh ku tahu, apa kerjamu sebelum kamu terlibat jaringan narkoba internasional ini?” tanyaku penasaran. 


“Lima tahun aku bekerja seperti Ibu Shinta,” jawab Asien tenang tapi sangat menghentak di telingaku. Kaget dan bingung, Asien bekerja seperti aku? 


“Maksud Asien?” tanyaku serius.


“Aku adalah mantan jurnalis, di koran ekonomi bisnis di Vietnam. Aku juga mengambil program master komunikasi, dan lulus pada tahun 2005.” jawaban Asien makin membelalakkan mataku. 


Mataku seketika berkaca-kaca. Memandang napi terpidana mati di depanku dan dia adalah jurnalis? Profesi yang sama-sama aku jalani 10 tahun ini.  


Oh jadi ini jawabannya kenapa Asien begitu ingin menciptakan kedekatan denganku. Rupanya dia punya jalur profesi yang sama denganku, sesama jurnalis perempuan. Bedanya adalah Asien terpenjara oleh kecerobohannya dan siap menerima resiko kematian dari kebodohannya itu. Dan aku, yang mengunjunginya di penjara, memberdayakan narapidana dari jalur seni. 


“Kenapa kau lakukan itu, Asien?” tanyaku resah. Suasana obrolan makin panas.  


“Ini kesalahanku. Lima tahun jadi jurnalis, gaji jurnalis rendah. Jadi  aku pindah kerja di kantor ekspor impor di Hongkong. Pergaulanku di Hongkong yang membuka peluang aku terlibat jaringan narkoba internasional,” terangnya.


“Untuk 1 koper heroin kalau aku berhasil menyelundupkan ke Indonesia, aku mendapat upah 20-60 juta. Aku lakukan karena uang.  Aku ambil heroin dari Cina, lalu ke Thailand dan ke Indonesia, waktu itu aku turun di bandara Solo, disana aku ditangkap,” ujar Asien tenang, tanpa air mata. 


Perempuan, Ditipu 


Bagiku, hanya Asien, dari sekian napi perempuan yang terlibat jaringan narkoba, yang jujur dan mengakui kesalahannya. 


Sebagian napi lain, sebut saja IL. Mantan TKW Honkong asal Indonesia Timur ini mengaku terlibat jaringan narkoba karena ditipu temannya.  “Saya diajak kerja mengirim barang-barang elektronik ke Indonesia, saya tidak tahu kalau didalam koper ada narkoba. Saya tidak tahu apa itu narkoba,” kata IL, entah jujur entah bohong. Dia kirimkan narkoba dalam koper barang elektronik dari Malaysia ke Jakarta. 


Senada dengan IL, Mr, perempuan cantik asal Iran, ibu rumah tangga yang membuka salon di Iran, mengaku ditipu temannya juga. Dia diajak bisnis garmen oleh rekan kerjanya.


“Saya diminta kirimkan jeans ke Indonesia, tidak tahu kalau di koper ada heroinnya. Saya kena hukuman 10 tahun. Stress saya di penjara ini,” ujar Mar yang mengaku sering rindu anak-anaknya. 


Agak berbeda dengan Mt, yang asal Jakarta, terlibat jaringan narkoba Nigeria. Mt, tidak ditipu tapi diberdayakan oleh rasa sakaunya. Sebagai DJ yang tiap malam ‘mimpin clubing’ di club-club Jakarta, Met butuh doping shabu tiap show. 


“Gaji gw sebulan sejuta, mana cukup nek buat nyabu, putaw. Jualan lah jalan keluarnya. Gw dapat untung plus bisa sambil make,” kata Met terang-terangan. 


Ujung-ujungnya Mt bersedia jadi kurir narkoba Nigeria. Bersama sang kekasih, Mt menjemput koper narkoba di bandara Soekarno Hatta. Lolos dari pemeriksaan petugas bandara membuat Mt agak lega. Tapi langkah Mt merasa aman, tak terhitung panjang, baru beberapa meter koper ditenteng dari bandara, polisi keburu menyergapnya di parkiran. 


Hancurlah Mt dan kekasihnya yang menjemput di parkiran bandara. Mt dibawa ke pengadilan dan diganjar 13 tahun. Sementara kekasihnya yang hanya nungguin di mobil, kena 7 tahun penjara dan mendekam di Nusakambangan Cilacap Jawa Tengah. 


Kadung kecanduan narkoba jadi faktor kesekian. Utamanya adalah ekonomi dan iming-iming besar bagi yang berhasil meloloskan narkoba ke Indonesia. Indonesia, dianggap pasar yang masih menggiurkan bagi jaringan narkoba Internasional. Dan perempuan masih dianggap senjata yang ampuh untuk menyelundupkan barang haram tersebut. 


“Ini kesalahanku, aku selalu tulis semua yang kujalani. Nanti akan jadi buku kalau putusan terakhir sudah aku terima, apakah aku mati atau tidak.  Kalau targetku meringankan hukuman terkabul. Aku ingin hukumanku,  menjadi seumur hidup, bukan hukuman mati,” kata Asien, sang mantan jurnalis berwajah manis itu mengakhiri ceritanya. 


Lonceng berbunyi tandanya Asien harus kembali ke bloknya.


Meski akhirnya perjuanganmu untuk melanjutkan hidup tidak berhasil dan kamu harus menemui ajal di ujung senapan sesaat lagi, tapi semangatmu untuk tegar dan tidak munafik patut kami hargai tinggi. 


Beberapa hari ini, Asien sudah berada di ruang isolasi. Sudah tidak diperkenankan menemui dan ditemui siapapun. “Hanya rohaniawan yang diijinkan mendampinginya,” kata juru bicara lapas wanita Semarang Utami. 


“Seharian dia nangis terus. Dia tegar, tapi shock itu pasti,” ungkap salah satu rohaniawan yang menjadi tim pendamping Asien. 


Semoga kisahmu dapat memberi pencerahan para calon korban kurir lain. Dan dapat mencegah langkah perempuan-perempuan yang ditarget menjadi kurir-kurir narkoba selanjutnya. 


“Meski nantinya aku mati, aku ingin ditembak di Vietnam,”ucapnya terakhir waktu itu. 


Namun sepertinya, keinginan itu tidak sepenuhnya terwujud. Pemerintah Indonesia hanya akan mengembalikan jasad Asien ke negara asalnya. Dan eksekusi tetap berlangsung di Indonesia. 




Penulis adalah kontributor KBR di Semarang, pegiat di Komunitas Insan Lucu-Lucu Semarang (KILLS).



Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!