energi terbarukan, bencana Fukushima, energi alternatif

Investasi mahal juga menjadi pertimbangan dalam menciptakan inovasi bagi perusahaan energi fosil. Walaupun demikian, kelangsungan usaha dalam jangka panjang dapat menjadi insentif yang baik bagi perusahaan bahan bakar fosil untuk terus beradaptasi. Pengembangan inovasi memang mahal tapi harga dari tidak melakukan apa-apa akan lebih mahal mengingat adanya dampak perubahan iklim, tekanan dari aktivis lingkungan, dan tren permintaan pasar.

Di sisi lain, kelompok lingkungan sering memberikan tekanan pada perusahaan energi fosil. Meskipun bahan bakar fosil berkontribusi besar pada emisi karbon dioksida, kita tidak bisa menghentikan pasokan bahan bakar fosil secara tiba-tiba. Hal ini akan member dampak negatif pada kestabilan pasokan energi dan perekonomian dunia. Bahan bakar fosil masih mendominasi sebagian besar pasokan energi di dunia, sekitar 80% dari kebutuhan energi global pada tahun 2010. Dunia belum siap untuk bergantung pada sumber energi terbarukan saja, setidaknya untuk saat ini.

Di tengah perdebatan antara energi terbarukan dan energi tak terbarukan, ada pula pertempuran antara energi terbarukan dengan tenaga nuklir. Beberapa kelompok lingkungan menolak keras penggunaan tenaga nuklir, teknologi dengan emisi karbon dioksida nol dan paling hemat biaya (dalam banyak referensi perhitungan).

Alasan keamanan biasanya menjadi argumen utama penolakan penggunaan tenaga nuklir, seperti Bencana Fukushima terakhir di Jepang. Bencana ini, sebaliknya, memberikan pelajaran berharga. Reaktor Fukushima menggunakan teknologi lama dan dilengkapi dengan sistem keselamatan dan perlindungan yang buruk, khususnya dalam merespon tsunami atau bencana alam skala tinggi. Pelajaran dari Fukushima akan membuat utilisasi energi nuklir hadir lebih aman dan akan terus menghasilkan daya bersih yang dapat diandalkan, dalam hal teknologi dan protokol keselamatan. Butuh 10 tahun operasi untuk “menghasilkan” 1 kematian kerja dari pengoperasian sebuah PLTN. Akan tetapi, masih ada kekhawatiran lain pada poin keamanan, yaitu terkait limbah radioaktif yang dihasilkan PLTN.

Selain poin keamanan, argumen penolakan lain adalah PLTN bersifat padat modal, terutama ketika diimplementasikan dengan peraturan keselamatan dan kontrol yang sangat ketat.

Argumen-argumen yang menentang penggunaan tenaga nuklir jelas ironis. Mereka mengabaikan fakta bahwa implementasi energi tak terbarukan juga mahal dan berisiko. Hubungan cinta-benci antara energi terbarukan dan nuklir ini hanya melempar argumen yang sama satu sama lain.

Jika kita menyampingkan kepentingan pasar dan politik, sesungguhnya mencari pilihan terbaik dalam bidang energi tidak akan menghasilkan jawaban yang tunggal. Energi itu layaknya obat: jika tidak ada efek samping, kemungkinan ia tidak dapat berfungsi. Biaya pengembangan yang besar di awal tentu tidak terelakkan.

Pada akhirnya, dunia harus memahami peran masing-masing sumber energi. Memutus seluruh pasokan bahan bakar fosil secara sekejap tentu mustahil untuk dilakukan. Meskipun investasi pada sumber-sumber energi terbarukan mungkin sangat penting untuk memenuhi kebutuhan energi baru di masa depan, energi nuklir dapat membantu pasokan listrik saat angin tidak bertiup atau matahari tidak bersinar. Tidak perlu memojokkan salah satu sumber energi. Jika kita benar-benar peduli dengan Bumi dan kelangsungan hidup spesies kita sendiri, sungguh langkah yang terbaik untuk bekerja sama.

*Fanny Rofalina, reporter Dekker Center

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!