energi alternatif, energi terbarukan, emisi karbon dioksida

Isu pemanasan global telah menarik perhatian dunia untuk menciptakan strategi-strategi penanggulangan dalam rangka mempersiapkan diri untuk perubahan iklim dan mencegah dampak terburuk dari pemanasan global.

Salah satu strategi penanggulangan tersebut adalah peralihan penggunaan sumber energi yang tidak dapat diperbaharui (bahan bakar fosil) ke sumber energi yang lebih efisien, berkelanjutan, dan ramah lingkungan. Strategi ini diharapkan dapat secara signifikan mengurangi emisi karbon dioksida yang menyebabkan efek rumah kaca di atmosfer. Karbon dioksida dihasilkan ketika manusia menggunakan bensin, gas alam, dan batu bara untuk menghasilkan listrik atau bertransportasi.

Banyak negara telah menginvestasikan dana besar-besaran ke penerapan sumber energi alternatif yang dinilai lebih ramah lingkungan, seperti energi terbarukan. Lima jenis sumber energi terbarukan yang paling sering digunakan adalah biomassa, tenaga angin, surya, air, dan panas bumi (geothermal). Perusahaan penghasil minyak, batu bara, dan gas juga berupaya menjawab tantangan lingkungan melalui inovasi peningkatan efisiensi produksi dan pengurangan emisi. Salah satu contoh dari inovasi tersebut adalah teknologi batu bara bersih.

Upaya peralihan ini tak lepas dari resistansi dan kontroversi sebagai bagian dari dinamika dunia.

Sebagian besar pembangkit listrik energi terbarukan memiliki dampak lingkungan yang lebih sedikit dari bahan bakar fosil. Namun, teknologi energi terbarukan memerlukan investasi yang sangat besar (padat modal). Pada September 2013, Departemen Energi Amerika Serikat mengalokasikan $ 66 juta subsidi untuk 33 perusahaan energi hijau. Mengingat tenaga angin dan surya kini baru memasok sekitar 3% kebutuhan listrik di AS. Tentu masih jauh dari efisien dibandingkan utilisasi bahan bakar fosil. Inovasi peningkatan efisiensi produksi energi terbarukan masih akan melalui perjalanan yang panjang.

Sumber energi terbarukan sering kali bergantung pada lokasi geografis. Pemanfaatan tenaga angin, surya, dan panas bumi adalah contohnya. Hanya daerah dengan hembusan angin, pancaran matahari, atau panas bumi yang memadai yang dapat menikmatinya. Sumber energi ini pun tidak dapat ditransportasikan agar bisa dinikmati oleh daerah lain.

Sumber energi terbarukan juga terbatas oleh alam. Pembangkit listrik tenaga air sangat bergantung pada elevasi air. Energi angin sangat bergantung pada iklim. Keterbatasan ini menimbulkan pertanyaan apakah kebutuhan energi dunia dapat dipasok oleh angin, air, dan matahari saja.

Meskipun energi terbarukan menghasilkan emisi karbon dioksida yang lebih sedikit, bukan berarti sumber energi ini benar-benar ramah lingkungan. Pembangunan PLTA menyebabkan dampak lingkungan karena harus membuka lahan untuk pembangunan bendungan. Dampak yang ditimbulkan, meliputi terganggunya keseimbangan ekosistem dan biodiversitas, serta menimbulkan risiko banjir dan gempa bumi. Selain itu, pembangkit listrik tenaga surya membutuhkan sel khusus (solar cell) yang menghasilkan limbah racun pada proses produksinya. Biomassa juga mengemisikan beberapa limbah cair/gas sebagai polusi dan menggunakan bahan bakar fosil dalam proses konversinya.

*Fanny Rofalina, reporter Dekker Center


Bersambung ke Adakah Sumber Energi Alternatif Terbaik? [2]

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!