malam tahun baru, warga miskin bertambah, BPJS kesehatan, KPK dan koruptor

I have won elections and I have lost elections - Hillary Clinton


Lembaran baru Tahun Masehi 2014 baru kita buka. Sebagian dari kita mungkin sempat merayakannya dalam suasana meriah malam pergantian tahun.  Di tempat-tempat hiburan, di pusat-pusat keramaian dan kawasan wisata. Sebagian lagi mungkin merayakannya di luar negeri, menikmati suasana baru, sembari tak lupa update status Facebook dan twitter. Ah, yang terakhir ini bahkan wajib hukumnya di era kejayaan media sosial, bukan?

Semua orang juga melambungkan harap: hari-hari mendatang akan berjalan lebih baik dari hari-hari kemarin. Sangat tak mungkin ada yang berdoa sebaliknya – bahkan, para koruptor dan penjahat yang sudah teranjur tertangkap dan dipenjara pun pasti berharap hal yang sama. Setidaknya berharap agar hukuman mereka tak terlalu berat.

Tahun baru, resolusi baru, semangat baru. Mestinya begitu.

Meski tak bisa dipungkiri, jutaan warga lainnya mungkin tak sempat merayakan hari baru. Jutaan lainnya yang masih berkutat dengan kebutuhan sehari-hari, berjuang untuk sekadar melanjutkan hidup. Mereka, yang tak mungkin kita lupakan, yang sehari-hari berkubang dalam kemiskinan dan kesulitan hidup.

Orang Miskin Baru

Apa boleh buat, meski negeri ini sudah merdeka 69 tahun, mandat negara untuk membebaskan warganya dari jerat kemiskinan belum juga terpenuhi. Catatan Badan Pusat Statistik pada Maret 2013 menyebut, jumlah orang miskin di Indonesia masih sangat besar: 28,07 juta jiwa. Jumlah warga miskin ini bahkan kian membesar seiring dengan melambungnya inflasi dan naiknya harga BBM. Pada September 2013, angka itu membengkak menjadi 28,55 juta jiwa, yang berarti ada tambahan orang miskin baru sebesar 480 ribu orang. Warga miskin inilah yang paling rentan terhadap segala macam gejolak sosial, ekonomi, dan politik.

Beruntung tepat di awal awal tahun, ada kabar gembira. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan diberlakukan per 1 Januari 2014. Pada tahap awal, sebanyak 116.122.065 jiwa otomatis akan menjadi peserta BPJS Kesehatan.  Mereka adalah peserta existing Askes Sosial (16.152.615) Jamkesmas (86,4 juta), TNI dan keluarga (859.216), Polri (793.454), dan Jamsostek (8.446.856). Melalui program ini, warga diharapkan tak lagi was-was ketika jatuh sakit. Ongkos perawatan yang mahal selama ini memang jadi momok menakutkan bagi banyak orang, terutama warga miskin.

Pemilu

Tahun 2014 adalah tahun yang menentukan. Pada bulan April dan Juli nanti, kita akan melaksanakan tahapan demokrasi paling penting: pemilu legislatif dan pemilu presiden. Keduanya akan mempengaruhi seluruh kehidupan kita – setidaknya untuk lima tahun mendatang.

Kita mencatat, di bawah pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selama dua periode, kondisi ekonomi  tak menunjukkan perbaikan yang spektakuler. Semuanya berlangsung secara organik, bertumbuh secara alamiah seperti tanpa ada pemerintahan.

Catatan serius justru dibukukan lembaga anti rasuah KPK. Banyak pejabat publik dan tokoh sipil menjadi tersangka kasus korupsi. Mulai dari menteri, anggota DPR, gubernur, bupati dan walikota, hingga ketua partai. Prestasi ini menggembirakan, tapi dari sisi lain juga menyedihkan karena begitu gampangnya para pejabat dan tokoh publik ini mengkhianati mandatnya sendiri.

Itu sebab, banyak yang berharap Pemilu 2014 akan menjadi titik balik bagi republik ini untuk mendapatkan kepemimpinan baru yang segar, yang berani, yang mampu membawa Indonesia melesat sebagau bangsa yang besar. Pemimpin baru ini mesti sanggup mengembalikan kebanggaan seluruh warga bangsa di tingkat global. Bukan bangsa yang terlampau sibuk memikirkan kekayaan kelompoknya sendiri atau bangsa yang berpikiran sempit atas nama primordialisme baik suku maupun agama.

Tahun 2014, bangsa ini harus kembali mengarahkan haluannya sejalan dengan cita-cita ketika ia diproklamasikan. Kegagalan memilih pemimpin akan berarti memperpanjang penderitaan bangsa.


* Heru Hendratmoko, wartawan

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!