Penistaan

Kalau pernyataan Ahok bermaksud mengkritisi politisi yang memanfaatkan ayat agama, agak sulit memahami apa tujuan pernyataan Habib Rizieq - selain untuk mengolok-olok semata.

Kamis, 29 Des 2016 09:39 WIB

Ilustrasi berteriak

Ilustrasi

Belum selesai kisruh kasus penistaan agama yang diduga dilakukan oleh Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), masyarakat kembali geger dengan kasus yang menyeret Rizieq Shihab. Pemimpin FPI  itu dilaporkan mahasiswa yang tergabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) lantaran isi ceramahnya yang dituding menistakan dasar keimanan Kristen.  PMKRI juga menyebut isi ceramah Rizieq Shihab itu melukai hati pemeluk agama tersebut.

Saat berceramah di Pondok Kelapa, Minggu 25 Desember 2016 Rizieq menjelaskan mengapa Muslim tidak boleh memberi atau membalas ucapan selamat natal kepada nasrani.  Dia lalu berseloroh, “Kalau Tuhan itu beranak, terus bidannya siapa?” 

Potongan ceramah ini menjadi viral di media sosial dan mengundang berbagai komentar. Ada yang mengecam, ada pula yang membela Rizieq. Ibarat babak baru kasus penistaan agama, perang komentar di lini massa terus menggelinding.  PMKRI lantas melaporkan Rizieq sekaligus pengunggah penggalan video ceramah Rizieq di Instagram dan Twitter.

Kalau pernyataan Ahok bermaksud mengkritisi politisi yang memanfaatkan ayat agama, agak sulit memahami apa tujuan pernyataan Habib Rizieq -  selain untuk mengolok-olok semata. Dari dangkalnya pernyataan Rizieq, kita belajar. Minimnya pemahaman kita soal iman saudara kita yang beragama berbeda, mustahil rasa saling menghormati dapat terjalin. Penghujung tahun 2016 ini adalah saat yang tepat untuk mengevaluasi diri dan introspeksi. Jangan lagi kita begitu enteng mencampuri urusan akidah umat lain tanpa paham betul apa yang diucapkan. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Saracen, Analisis PPATK sebut Nama Besar

  • Bentuk Densus Tipikor, Mabes Minta Anggaran Hampir 1 T
  • Bareskrim Sita Jutaan Pil PCC di Surabaya
  • Konflik Myanmar, Tim Pencari Fakta PBB Minta Tambahan Waktu