Ajar

Lihat aksi sekelompok orang pada hari buruh kemarin di Jakarta. Teladan apa yang hendak ditunjukkan dengan aksi bakar rangkaian bunga untuk Ahok-Djarot? Aksi ini justru mencederai perjuangan buruh.

Selasa, 02 Mei 2017 00:05 WIB

Buruh bakar bunga Ahok-Djarot

Polisi mencoba memadamkan karangan bunga untuk Ahok-Djarot yang dibakar dalam aksi Hari Buruh Internasional di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Pusat. (Foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Pada 95 tahun silam Raden Mas Soewardi Soerjaningrat mendirikan lembaga pendidikan Taman Siswa. Tempat belajar ini memberikan ruang bagi jelata. Kala penjajahan Belanda, hanya mereka yang berdarah biru, priyayi yang bisa menikmati pendidikan. Anak-anak jelata calon buruh tani itu dipandang tak ada guna diberi pengajaran.

Soewardi yang belakangan dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara memperkenalkan patrap triloka atau tiga semboyan di dunia pendidikan. Yang di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat, dan yang dibelakang memberi dukungan atau tut wuri handayani. Tiga hal yang sangat relevan  hingga saat ini. Bukan hanya di pendidikan, tapi juga di semua lini.

Lihat misalnya aksi sekelompok orang pada peringatan hari buruh kemarin di Jakarta. Teladan apa yang hendak ditunjukkan dengan aksi bakar rangkaian bunga untuk Ahok-Djarot? Aksi ini justru mencederai perjuangan kelompok buruh yang disuarakan lewat May Day. Mulai dari soal outsourcing, magang, sampai catatan hitam lainnya yang masih dialami buruh. Tuntutan yang diperjuangkan, yang penting bagi hajat hidup buruh, justru seperti teredam lantaran aksi bakar-bakaran ini.

Provokasi semacam itu tentu bukan teladan. Tak hanya menyulitkan petugas kebersihan, yang juga buruh, ini jelas bukan aksi simpatik untuk memperjuangkan hak-hak pekerja.

Buah perjuangan Ki Hajar Dewantara sudah kita rasakan. Pendidikan bisa diperoleh siapa pun. Dan negara terikat kewajiban untuk memenuhi hak warga negara ini. Pendidikan sedianya mengajarkan soal suri tauladan, juga mencegah pembodohan. Jangan sampai juga motivasi kepentingan politik membuat kita mudah dibodohi 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

Puluhan Hektare Lahan di Riau Terbakar

  • 5 Ormas di Jateng Terindikasi Anti-Pancasila
  • PM Israel Ancam Usir Al-Jazeera dari Yerusalem
  • Juve Siap Ajukan Tawaran untuk Keita

Indonesia mengalami masalah ketimpangan (inequality) dan tengah berupaya memeranginya. Simak perbincangannya hanya di Ruang Publik KBR, Rabu 26 Juli 2017 pukul 09.00-10.00 WIB.