Jernih Melihat Kasus BLBI

Apa yang terlihat di media sosial memperlihatkan isu BLBI ini sudah bergeser ke alat serang-menyerang kepentingan politik, menyinggung-nyinggung Presiden Megawati, Presiden SBY dan lain-lain.

Rabu, 26 Apr 2017 00:11 WIB

Jubir KPK dan Waki Ketua KPK umumkan tersangka kasus BLBI.

Juru bicara KPK Febri Diansyah dan Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan memberikan keterangan tentang penetapan mantan Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Syafruddin Arsyad Temenggung sebaga

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memukul kembali genderang perang dalam pengusutan perkara korupsi dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia atau populer disebut korupsi BLBI. Setelah lama tidak tersentuh, KPK menyisir lagi kasus itu dengan menetapkan bekas Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional BPPN Syafruddin Temenggung sebagai tersangka.

KPK menduga Syafruddin terlibat kongkalikong dengan seorang penerima dana BLBI, yaitu Sjamsul Nursalim. Utang Sjamsul sebesar Rp4,7 triliun dikorting jadi Rp1,1 triliun. Artinya, negara rugi sekitar Rp3,7 triliun.

Kita menyambut gembira langkah KPK melanjutkan perkara BLBI itu. Ini lebih melegakan kita, dibanding ketika dahulu Kejaksaan Agung mengeluarkan surat perintah penghentian penyidikan terhadap Sjamsul Nursalim dan Syafruddin Temenggung dan empat orang tersangka BLBI lain.

Kasus BLBI memang rumit. Usianya juga sudah hampir 20 tahun terhitung sejak krisis moneter era Soeharto di tahun 1998.

Dana BLBI sebesar Rp144 triliun rupiah yang disalurkan ke 48 bank ternyata macet atau dirampok pemilik bank dengan berbagai modus. Menurut audit BPK, potensi kerugian BLBI sangat besar, sekitar Rp138 triliun. Bahkan menurut versi LSM FITRA, kerugian negara akibat BLBI hingga 2015 mencapai Rp2000 triliun, dan terus bertambah seiring waktu.

Keruwetan itu sekarang sedang coba diurai sedikit demi sedikit oleh KPK. Kita percayakan pada lembaga ini, dan tidak perlu menggoreng isu ke pihak lain yang tidak ada hubungannya. Apa yang terlihat di media sosial memperlihatkan isu BLBI ini sudah bergeser ke alat serang-menyerang kepentingan politik, menyinggung-nyinggung Presiden Megawati, Presiden SBY dan lain-lain.

Kita juga berharap publik tidak menggunakan isu BLBI untuk menyebar kebencian terhadap etnis tertentu, seperti yang saat ini ramai di media sosial. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi