Kolong Layar

Pernyataan pembiaran alias menolerir semacam ini sesungguhnya bagian dari provokasi kebencian. Sebagai seorang Wakil Ketua MPR sepatutnya memperhatikan potensi gesekan berbau SARA.

Selasa, 14 Mar 2017 00:33 WIB

Ilustrasi: provokasi.

Ilustrasi: provokasi.

Pemilihan kepala daerah di Jakarta tak hanya menumpulkan akal sehat tapi juga mematikan rasa kemanusiaan segelintir warganya. Urusan kekuasaan membuat sekelompok kecil orang tega memprovokasi untuk menolak mensalatkan jenazah warga yang berbeda pilihan. Sebagian bahkan berdalih menyebut jenazah itu sebagai bangkai sehingga tak sepatutnya diurus.

Setelah itu semua terjadi, barulah pemerintah Provinsi Jakarta menurunkan spanduk pemecah belah itu. Hingga kemarin, Satpol PP telah menurunkan lebih 200 spanduk penolakan mensalatkan tersebut. Kata pelaksana tugas gubernur, sebagian ada yang keberatan dengan penurunan spanduk tersebut. Mestinya, untuk pernyataan terbuka berbau kebencian yang dipasang di tempat umum, aparat tak perlu segan menurunkan - meski dengan paksaan.

Kata Wakil Ketua MPR Hidayat Nurwahid, pemasangan spanduk itu ekspresi lantaran hukum tak dilaksanakan.  Petinggi Partai Keadilan Sejahtera itu menyarankan kepada polisi, agar daripada menurunkan spanduk, lebih dahulu melakukan koreksi atas kerja-kerja di bidang hukum.

Pernyataan pembiaran alias menolerir semacam ini sesungguhnya bagian dari provokasi kebencian.  Sebagai seorang petinggi negara yang menjaga konstitusi Wakil Ketua MPR sepatutnya memperhatikan potensi gesekan berbau SARA itu. Alih-alih meredakan, itu malah seperti memberi dukungan bagi tindak tak manusiawi tersebut.  

Sepatutnya aparat sejak jauh-jauh hari menindak tegas dengan menurunkan spanduk. Tindakan preventif itu perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya penolakan mensalatkan jenazah di masjid setempat. Karena mencegah pemicu SARA  ini akan jauh lebih baik daripada memadamkan kala api membakar melebar ke mana-mana.  Api SARA yang menghancurkan akal sehat, kemanusiaan dan silaturahmi antarwarga. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Perpanjangan Pansus KPK Boroskan Duit Negara

  • Saksi Ahli Novanto Sebut KPK Terlalu Dini Tetapkan Tersangka
  • Densus Antikorupsi Polri Ditargetkan Balikan Uang Negara 900 Miliar Lebih
  • Pemkot Medan Ambil Alih Pasar Pringgan