Sentimen SARA

Kata Mega, bagi mereka teror dan propaganda adalah jalan tercapainya kekuasaan. Mega menilai mereka sebagai kelompok yang antikebhinekaan.

Rabu, 11 Jan 2017 07:57 WIB

Bupati Bantul, Yogyakarta Suharsono. (Foto: Antara)

Bupati Bantul, Yogyakarta Suharsono. (Foto: Antara)

Puluhan orang yang mengaku warga Kecamatan Pajangan, Bantul Yogyakarta meminta Camat diganti lantaran nonmuslim. Mereka berdalih Yulius Suharta  yang baru dilantik akhir Desember lalu itu tak cocok dengan karakteristik daerah itu. Akibat penolakan itu, serah terima jabatan yang mestinya berlangsung hari ini terpaksa ditunda.

Menanggapi penolakan sebagian warga itu, Bupati Bantul Suharsono menegaskan tidak akan memberhentikan Camat. Dia beralasan Yulius dipilih karena kinerja, bukan agama. Meski begitu bupati mempertimbangkan memindahkan Yulius ke daerah lain.

Ini bukan perkara pertama penolakan pejabat lantaran nonmuslim. Sebelumnya ada Lurah Susan Jasmine Zulkifli dan Kapolda Listyo Sigit Prabowo yang didesak untuk diganti lantaran nonmuslim. Gubernur Jakarta saat itu Jokowi menolak permintaan penggantian Lurah Susan. Pun juga Kapolri Tito Karnavian menolak mengganti Kapolda Banten itu.

Begitulah ketika sikap intoleran dibiarkan. Menyebar dan menyasar siapa saja yang dianggap berbeda. Menyitir ucapan Megawati Soekarnoputri saat pidato politik HUT PDI Perjuangan, kelompok dengan ideologi tertutup itu memaksakan kehendak, tidak ada dialog apalagi demokrasi. Kata Mega, bagi mereka teror dan propaganda adalah jalan tercapainya kekuasaan. Mega menilai mereka sebagai kelompok yang antikebhinekaan.

Peringatan eks Presiden kelima itu patut menjadi perhatian siapa saja yang menginginkan negeri ini utuh. Di negara dengan beragam agama, keyakinan dan suku,  sangat rawan diadu dengan sentimen SARA. Sekali tunduk dengan teror itu, maka makin berkembangbiaklah sikap intoleran. Bisa jadi kelak, warga akan terpisah berdasar agama lantas suku, atau golongan. Dan kebhinekaan, berbeda-beda tetapi tetap satu itu akan tinggal kenangan. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

First Travel utang Ratusan Miliar ke Hotel dan Maskapai

  • Pemerintah Barter Pesawat Tempur Sukhoi SU-35 dengan Rusia
  • Persen Peredaran Narkoba Jateng Dikendalikan dari Lapas
  • Polisi Rejang Lebong Tembak Satpol PP Terlibat Terlibat Pungli dan Begal di Jalur Lintas Sumatera

Indonesia baru merayakan dirgahayu yang ke-72. Ada banyak harapan membuncah untuk generasi penerus yang bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.