Mendengar Papua

Bagaimana mungkin damai bisa terwujud jika pemerintah terus abai pada jejak- jejak kekerasan di Tanah Papua?

Jumat, 15 Des 2017 10:00 WIB

Ilustrasi.

Desember 2014. Tiga tahun lalu, dua bulan setelah dilantik sebagai Presiden, Joko Widodo berjanji Papua akan menjadi tanah yang damai. Saat memberikan sambutan di acara Natal Bersama Nasional di Jayapura, Jokowi mengaku ingin mendengar lebih banyak suara rakyat Papua.

Sampai sekarang, janji itu belum juga terwujud. Sudah berapa kali Jokowi kunjungi Papua, permasalahan HAM di sana tidak kunjung selesai. Tahun lalu Pemerintah berjanji menyelesaikan 11 kasus dugaan pelanggaran HAM di Papua. Setahun kemudian, susut menjadi tiga saja yang diprioritaskan untuk dituntaskan; kasus Wasior, Wamena, Paniai.

Yang lama saja tak kunjung tuntas, peristiwa kekerasan baru terus bermunculan. Sepanjang 2017, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, Kontras, mencatat 61 peristiwa kekerasan terjadi di Papua - mulai dari penganiayaan hingga penembakan.

Pemerintah justru 'menjawab' dengan pembangunan fisik - bandara perintis, pelabuhan, jalan paralel perbatasan hingga jalan lintas perbatasan. Jokowi ingin Papua lebih sejahtera lewat pembangunan infrastruktur. Itukah buah dari ‘mendengar lebih banyak suara rakyat Papua’ yang dimaksud Jokowi? 

Kemarin lebih 27 ribu orang bicara soal Papua. Tak hanya warga asli Papua, tapi juga orang warga luar Papua. Mereka terlibat dalam survei yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Change.org untuk mengetahui sejauh mana pemahaman publik atas isu-isu di tanah Papua. Hasilnya, 53 persen menyebut isu terkait HAM di Papua penting untuk diketahui orang di luar Papua. Juga, keinginan warga Papua untuk hidup damai. Lihat Pak, yang diminta bukan jalanan. Ada hak lebih mendasar yang perlu dipenuhi di Papua: hak atas hidup damai. Bagaimana mungkin damai bisa terwujud jika pemerintah terus abai pada jejak- jejak kekerasan di Tanah Papua? 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.