Papua

Belajar dari sejarah, cara-cara kekerasan, penangkapan, dan penyiksaan tak pernah berhasil menyurutkan keinginan sebagian masyarakat Papua melepaskan diri dari Indonesia.

Kamis, 01 Des 2016 01:21 WIB

Ilustrasi Papua

Ilustrasi Papua


Hari ini, bagi sebagian warga Papua merupakan hari bersejarah. 1 Desember dikenal sebagai peringatan deklarasi bangsa Papua. Komite Nasional Papua Barat (KNPB) sejak sepekan lalu telah menyerukan agar masyarakat Papua memperingatinya. Rencananya ada aksi peringatan berupa ibadah syukur seperti di Wamena, Timika, Manokwari dan Jayapura.

Merespon ini, pemerintah sudah jauh-jauh hari kasih peringatan. Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto melarang peringatan 1 Desember karena dianggap melanggar konsitusi. Wiranto memastikan bakal menangkap siapapun yang memperingatinya

Pernyataan Wiranto ini berbeda dengan keinginan Presiden Joko Widodo. Sejak lama Jokowi menginginkan agar cara-cara kekerasan tak lagi dikedepankan untuk menangani persoalan di Papua.  2014 lalu dalam pidatonya di GOR Weringin, Jayapura,  Joko Widodo dengan tegas meminta jangan lagi ada kekerasan di sana. 

Belajar dari sejarah, cara-cara kekerasan, penangkapan, dan penyiksaan tak pernah berhasil menyurutkan keinginan sebagian masyarakat Papua melepaskan diri dari Indonesia.Tahun ini ribuan orang ditangkap dalam gelombang aksi yang digelar KNPB. Apa lantas hasrat mereka menuntut penentuan nasib sendiri surut? Belum lagi sejumlah Negara di Pasifik, masyarakat Indonesia pun kini secara terbuka menyatakan dukungannya lewat deklarasi Front Rakyat Indonesia untuk Papua Barat (FRI-West Papua). 

Kalau sudah begini, siapa yang rugi? Kekerasan hanya akan makin menjauhkan Papua dari kita.  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Tanggal 23 Juli nanti kita akan merayakan Hari Anak Nasional. Peringatan ini diharapkan bisa menjadi pengingat bahwa masih banyak persoalan yang dihadapi anak Indonesia.