Fitnah

Tautan semacam itu lantas mendadak viral dan bisa berbuah laporan ke polisi. Siapa yang mesti dijerat?

Jumat, 16 Des 2016 00:02 WIB

Kamar kos terduga jaringan teroris pasca penggrebekan Densus 88.

Penjaga rumah kos membersihkan sisa reruntuhan bangunan kamar terduga anggota jaringan teroris yang rusak pasca penggerebekan tim Densus 88 Mabes Polri, di kawasan Bintara Jaya 8, Bekasi, Jawa Barat,

Kepolisian mengirimkan surat panggilan kepada anggota Komisi Pendididikan dan Olahraga, Eko Hendro Purnomo alias Eko Patrio. Anggota DPR yang dikenal sebagai pelawak itu akan diinterview terkait komentarnya di media daring. Dalam tulisan itu, Eko menyatakan sejumlah kasus bom yang muncul itu sebagai pengalihan isu kasus Ahok. Oleh pelapornya, Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPW PAN) Jakarta itu dinilai melanggar pidana penghinaan dalam KUHP dan juga Undang-Undang Informasi dan Transaksi elektronik (UU ITE).  

Awalnya kabar itu muncul dari media satelitnews 3 hari lalu. Pasca ramainya polemik itu, tautan tulisan itu menghilang. Dari penelusuran melalui Google cache,  tulisan yang hilang --entah karena apa-- diubah nama sumbernya tak lagi Eko Patrio tapi menjadi Baidhowi. Itu sebab fraksi PAN di DPR meradang. Saat sidang Paripurna FPAN memprotes tindakan kepolisian memanggil anggotanya itu. FPAN mengklaim anggotanya tak pernah mengucapkan komentar tersebut.

Begitulah kabar yang telanjur menyebar dan mengundang polemik. Tanpa melihat medianya, tanpa memastikan kebenaran informasinya, membaca judul yang heboh orang lantas menyebarkannya. Tautan semacam itu lantas mendadak viral dan bisa berbuah laporan ke polisi. Siapa yang mesti dijerat? Media, nara sumber, nama yang disebut, atau orang yang ringan jari membagi tautan itu?

Di era ketika fitnah meruyak dan bisa setiap detik muncul di layar telepon genggam atau komputer,  setiap pemilik akun media sosial mesti bijak menyikapi, apalagi membagikan kabar.  Satu sentuhan jari membagikan kiriman itu, mengandung konsekuensi terali besi. Suka tidak suka,  aturan di KUHP atau UU ITE memungkinkan itu terjadi. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Ini Hasil Rapat Bamus DPR soal Perppu Ormas

  • Tim Arkeolog Sumba Berupaya Cetak Kerangka Situs 2800 Tahun
  • LN: Amerika Terapkan Sanksi Baru bagi Pendukung Korea Utara
  • OR: Di Tengah Ketakpastian Draxler Didekati Sejumlah Klub

Indonesia baru merayakan dirgahayu yang ke-72. Ada banyak harapan membuncah untuk generasi penerus yang bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.