Selamat Sampai Tujuan

Jika transportasi publik tertata dengan baik, yang merasakan nikmatnya ya kita-kita juga: bisa betul-betul ‘selamat sampai di tujuan’.

Rabu, 30 Des 2015 10:00 WIB

Ilustrasi. (KBR/Ridlo)

Ilustrasi. (KBR/Ridlo)

Kota yang terus bertumbuh, baik fasilitas maupun penduduknya, cepat atau lambat bakal menghadapi masalah yang sama: transportasi kota. Semakin padat suatu kota, maka sudah bisa terbayang bakal sangat sulit mengatur lalu lintas kota tersebut. Apalagi jika pertumbuhan fisik berlangsung dengan sangat cepat, maka pengaturan akan lebih sulit lagi.


Jawa Timur membuktikan diri telah berupaya menyelenggarakan transportasi perkotaan yang baik. Parameternya adalah selamat, tertib, lancar, efisien dan handal. Untuk itu Jawa Timur diganjar penghargaan Wahana Tata Nugraha yang diperoleh sebanyak lima kali berturut-turut. Selain itu juga ada 27 kabupaten/kota di Jawa Timur yang juga meraih penghargaan serupa.


Dalam pidato penyerahan penghargaan, Presiden Joko Widodo menekankan pentingnya setiap Pemerintah Daerah untuk membangun transportasi umum yang sesuai keinginan masyarakat. Jokowi menyoroti hubungan yang erat antara sarana dan transportasi publik dengan kesejahteraan dan demokrasi bangsa.


Logika ini betul dan sedianya dipahami dan diterapkan semua pejabat pemerintah daerah. Transportasi yang baik sudah pasti akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang baik pula. Indonesia begitu kaya akan komoditas bernilai tinggi. Tapi seringkali keterbatasan akses transportasi membuat distribusi barang begitu susah. Kalaupun bisa, biayanya jadi ektra mahal. Transportasi yang baik juga mendorong tumbuh kembangnya budaya yang baik. Yang sederhana dulu saja: antri. Jika transportasi diatur secara serampangan, maka prinsip ‘siapa cepat dia dapat’ bakal jadi hukum rimba di jalanan. Sementara jika diatur dengan lebih holistik, maka budaya antri serta merta akan ikut terbangun.


Kita bisa belajar dari cara Lamongan menerapkan fasilitas pejalan kaki yang sudah cukup baik. Di sana pun ada lampu lalu lintas bertenaga surya dan memiliki Traffic Accident Centre. Kita juga bisa belajar dari Tulungagung yang tahun ini juga mendapat penghargaan Wahana Tata Nugraha ini. Di sana, parkir pertokoan dianggap cukup rapi, ada pelayanan bus gratis antar jemput siswa pelajar SMP, terminal yang luas. Tahun depan, Tulungagung berencana membuat jalur khusus sepeda angin di daerah perkotaan.


Kita mesti selalu ingat bahwa kecelakaan di jalan raya adalah salah satu penyebab kematian utama di tanah air. Jika transportasi publik tertata dengan baik, yang merasakan nikmatnya ya kita-kita juga: bisa betul-betul ‘selamat sampai di tujuan’.  


Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

KPK Mulai Kerjakan Berkas Korupsi e-KTP Setya Novanto

  • Musim Kemarau BPBD Situbondo Waspada Bencana Kebakaran Hutan
  • Tujuh Orang Tewas akibat Crane Ambruk di Cina
  • Rumor Transfer Neymar Bikin Manajer Liverpool Heran

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.