Ilustrasi. (KBR/Danny)

Ilustrasi. (KBR/Danny)

Dua hari ini begitu hangat. Kemarin adalah peringatan Maulid Nabi Muhammad, sementara hari ini adalah perayaan Natal. Yang satu hari penting bagi umat Muslim, sementara yang satunya lagi adalah hari penting bagi umat Kristiani. Kehangatan terasa sampai di media sosial. Ada banyak sekali gambar dan tulisan yang beredar untuk menandai dua hari unik yang berdampingan ini.


Paling tidak, ini adalah langkah konkrit menghindar dari “perdebatan” klasik jelang Natal. Apakah orang Islam boleh mengucapkan selamat Natal bagi orang Kristen? Dari Natal ke Natal, itu melulu yang dilontarkan. Padahal di dalam agama sudah tertulis jelas: untukmu agamamu, untukku agamaku. Toh tak mungkin tiba-tiba berubah keyakinan hanya karena mengucapkan selamat Natal kan?


Perdebatan yang juga terasa usang, tapi mesti terus dikawal, adalah soal masih tidak bisanya sejumlah umat Kristen untuk merayakan Natal di gerejanya masing-masing. Hari ini, jemaat GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia akan kembali beribadah Natal di depan Istana Merdeka. Ini sudah kali keempat. Alasannya sama: gereja mereka masih disegel oleh pemerintah setempat. Mereka tak bosan-bosannya mendesak Negara untuk memenuhi hak mereka untuk beribadah. Dukungan datang dari kelompok lintas iman, termasuk dari Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, LBH Jakarta, Kontras dan lembaga lainnya. Meski sudah ada dua presiden, yaitu SBY dan Jokowi, keadaan belum berubah juga bagi mereka.


Ada juga gereja-gereja lain yang sempat bermasalah, tapi kini bisa merayakan Natal dengan damai. Pemerintah Provinsi Aceh memastikan tidak ada larangan perayaan Natal. Oktober lalu, Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi di Aceh Singkil dibongkar pemerintah daerah karena dianggap tak punya izin. Sementara dua bulan sebelumnya, gereja di Aceh Singkil dibakar sekelompok orang. Kabar baik juga datang dari daerah Kranggan, Bekasi. Tahun lalu gereja ini sempat bermasalah IMB-nya, lalu pembangunannya terbengkalai begitu saja. Dan tahun ini, gereja tampak mulai bergeliat menyambut Natal sejak beberapa pekan lalu.


Mencari rasa aman itu tak mudah. Begitu juga menjaga supaya perbedaan tak jadi pemicu rasa takut. Tapi itu lah gunanya kita hidup berdampingan, hidup bersama. Supaya bisa saling belajar, menghargai dan menjamin rasa aman. Tahun ini, di mana Maulid Nabi Muhammad dan Natal dirayakan berdampingan, bisa kita jadikan momentum untuk menjaga kedamaian itu. Selamat Natal. Semoga damai terus di bumi kita ini.  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!