Warga Banyuwangi, Jawa Timur menikmati jamu gratis usai mencoblos dalam pilkada serentak (Foto: KBR/

Warga Banyuwangi, Jawa Timur menikmati jamu gratis usai mencoblos dalam pilkada serentak (Foto: KBR/Hermawan A.)

Pilkada serentak digelar untuk pertama kalinya di Indonesia. Sedianya ada 269 daerah yang mengikuti pilkada serentak, tetapi kemudian menjelang hari H pencoblosan di lima daerah ditunda.

Berbagai cara dilakukan kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) untuk meningkatkan partisipasi masyarakat pada Pilkada Serentak 2015, 9 Desember, kemarin. Mulai dari mendesain TPS agar terlihat unik hingga doorprize yang dibagikan kepada pemilih yang akan menyalurkan hak suara. Di Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, misalnya, panitia pemungutan suara memberikan hadiah cokelat untuk warga yang telah menggunakan hak suaranya. Lain lagi di TPS 1 Kelurahan Ngilir, Kendal, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Panitia di TPS ini menyiapkan doorprize berupa ayam dan berbagai jenis hadiah lain bagi 160 pemilih pertama. Sementara di Kampung Pancoran Mas Depok Jawa Barat bahkan warga lansia dijemput dengan odong-odong menuju TPS.

Beragam cara dilakukan demi memotivasi pemilih agar menggunakan hak pilih mereka.  Namun seperti sudah diprediksi jauh hari sebelumnya, tingkat partisipasi pemilih pada pilkada kali ini memang rendah.

Di Kota Medan, sejumlah TPS  terlihat sepi pemilih. Kebanyakan TPS hanya dihadiri 10 hingga 20 persen pemilih saja. Di Kecamatan Medan Polonia misalnya dari daftar pemilih tetap yang berjumlah 700an orang, hingga jelang TPS tutup  baru 89 pemilih yang menggunakan hak pilihnya. Hal serupa juga terjadi di Tangsel. Di sejumlah TPS baru berkisar 20 persen masyarakat yang mempunyai hak pilih memberikan suaranya. Seperti  di TPS 33 Rawa Buntu satu jam jelang penutupan hanya 89 orang dari 500an pemilih terdaftar yang memberikan hak suara atau baru sekitar 17 persen. Di Jambi juga sama. Padahal sejumlah TPS sudah menyediakan suguhan makanan khas ala Jambi dan mendekor TPS agar terlihat menarik.

Keengganan pemilih untuk datang ke TPS terjadi bukan tanpa sebab. Sejumlah pemilih mengaku pilihan calon yang terbatas, tak lebih dari 3 orang, bahkan ada TPS yang hanya punya calon tunggal, membuat mereka enggan datang ke TPS.

Sudahlah minim pilihan calon berkualitas, jelang pilkada publik juga disuguhkan tontonan skandal para wakil rakyat dalam kasus #papamintasaham.  Kemarahan publik atas kelakuan anggota dewan itu lantas berbuah ajakan #boikotpartaipapa pada pilkada.  Jadi sangat bisa dimaklumi jika perhelatan demokrasi kali ini sepi peminat lantaran masyarakat khawatir para calon yang bakal memimpin nantinya punya tabiat serupa: tak amanah. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!