Pembangkang

Tim Advokasi Antikriminalisasi (TAKTIS) menuding Kepolisian membangkang terhadap Presiden Joko Widodo.

Jumat, 04 Des 2015 10:00 WIB

Ilustrasi

Ilustrasi

Tim Advokasi Antikriminalisasi (TAKTIS) menuding Kepolisian membangkang terhadap Presiden Joko Widodo. Pasalnya Kepolisian masih melanjutkan perkara penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Penyidik lembaga antirasuah itu dijadikan tersangka penganiayaan saat menjadi Kepala Penyelidik di Kepolisian Kota Bengkulu. 

Kata Tim Advokasi, Presiden Joko Widodo sudah menyatakan upaya hukum kepada Novel harus dihentikan karena akan memicu konflik kepentingan antarlembaga. Perintah penghentian kasus ini juga pernah datang dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2012 silam. Pasalnya, kasus ini kental dugaan rekayasa.

Pada sekira 3 tahun silam, Novel Baswedan menjadi Koordinator Tim Penyidik KPK untuk kasus korupsi simulator Surat Izin Mengemudi (SIM). Kasus ini menjerat jenderal bintang dua Kepala Korps Lalu Lintas Mabes Polri Djoko Susilo juga wakilnya ketika itu jenderal bintang satu Didik Purnomo. Dalam kasus ini belakangan di tingkat banding Djoko Susilo dihukum 18 tahun penjara, sedangkan Didik Purnomo pada 8 bulan lalu dihukum 5 tahun penjara. 

Ketika kasus korupsi simulator SIM itu baru mencuat, tiba-tiba muncul kasus dugaan penganiayaan yang dilakukan Novel pada 2004. Ketika kasus terjadi, saat Novel menjabat sebagai kepala penyidik mendapat laporan adanya pencurian sarang burung walet. Novel lantas memerintahkan anak buahnya menyelidiki kasus tersebut. Faktanya ketika peristiwa dugaan penganiayaan terjadi Novel tidak ada di tempat kejadian perkara. Karena itu Novel sebagai atasan hanya kena sanksi “peringatan keras” melalui putusan sidang kode etik Polri. 

Berkas perkara penyidik terbaik KPK itu kata Kapolri Badrodin Haiti sudah lengkap sehingga diteruskan ke Kejaksaan. Pengadilan yang kelak akan berjalan mesti dipastikan berjalan dengan transparan dan berkeadilan. Sembari itu presiden mesti mengusut para pembangkang dan memastikan –juga perekayasa kasus ini— mendapat sanksi. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Ikhtiar Membentengi Anak-anak Muda Dari Radikalisme

  • Kepala Korps Brimob soal Penganiayaan Anggota Brimob Terhadap Wartawan LKBN Antara
  • Wakil Ketua KPK Laode M Syarief Soal Sikap KPK Terhadap Pansus Angket KPK Di DPR
  • Mendikbud Muhajir Effendy Soal Penerapan Sekolah Lima Hari Sepekan
  • Jadi Kepala UKP Pembinaan Pancasila, Yudi Latif Jelaskan Perbedaan dengan BP7
  • Siti Nurbaya: Lestarikan Lingkungan Perlu Kejujuran

Pria Pembawa Senjata Tajam di Polda Ternyata Sakit Jiwa

  • Kelanjutan Relokasi Tiga Gereja di Bogor, Pemkot dan FKUB Tunggu Kesanggupan Pihak Perumahan
  • Filipina Teliti Video Kelompok Maute Eksekusi Warga Sipil
  • Facebook Bakal Siarkan Pertandingan Liga Champions Eropa Musim Depan

Mudik seakan menjadi rutinitas tahunan dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Bagaimana kesiapan fasilitas sarana dan prasarana mudik tahun ini? Apakah sudah siap pakai untuk perjalanan pemudik?