Ilustrasi. (KBR/Eli)

Ilustrasi. (KBR/Eli)

Namanya Dartam. Selama sekira 24 tahun warga desa Pageraji, Banyumas, Jawa Tengah itu tinggal di kandang kambing. Dartam, penyandang disabilitas gangguan jiwa itu dipasung keluarganya lantaran kerap mengamuk, setelah depresi ditinggal kekasih hati. 

Oleh keluarga dan dinas sosial lantas Dartam yang dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banyumas. Tapi apa daya, diskriminasi yang diterima, Darkam kemudian kembali pulang lantaran rumah sakit menolak merawat karena tak punya kartu tanda penduduk. Esoknya Bupati Banyumas, Achmad Husein kepada KBR menyampaikan telah memerintahkan RSUD untuk merawat Darkam. Baru setelah kepala daerah turun tangan RSUD mau merawat Darkam. Sungguh tidak sepatutnya.

Diskriminasi bagi penyandang disabilitas tak hanya dialami Darkam. Jutaan lain tanpa kita sadari mengalami diskriminasi. Trotoar yang berundak, angkutan umum, pusat perbelanjaan, kantor pemerintahan mendiskriminasi penyandang disabilitas dengan tak memberi akses bagi mereka untuk menggunakan layanan publik itu. Belum lagi kewajiban menyediakan kuota tenaga kerja disabilitas sebesa1% bagi perusahaan atau lembaga negara juga tak banyak yang memenuhinya.

Besok dunia memperingati Hari Disabilitas. Tahun ini Indonesia mengambil tema “Wujudkan masyarakat inklusif melalui Undang Undang Disabilitas dan strategi multi sektoral “. Sejak hampir 2 bulan silam, Rancangan Undang-Undang Penyandang Disabilitas telah disahkan menjadi RUU inisiatif DPR. 

Para penyandang disabilitas berharap aturan baru itu dapat segera disahkan untuk menggantikan UU tentang Penyandang Cacat yang sudah berusia hampir 20 tahun. Dengan aturan yang lebih baik, diharapkan akan lebih menjamin hak-hak penyandang disabilitas. Tak ada lagi diskriminasi bagi mereka. Akses di berbagai sektor akan jadi kunci keberhasilan penyandang disabilitas membaur dan beraktifitas di masyarakat. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!