Hari Disabilitas

Namanya Dartam. Selama sekira 24 tahun warga desa Pageraji, Banyumas, Jawa Tengah itu tinggal di kandang kambing.

Rabu, 02 Des 2015 12:00 WIB

Ilustrasi. (KBR/Eli)

Ilustrasi. (KBR/Eli)

Namanya Dartam. Selama sekira 24 tahun warga desa Pageraji, Banyumas, Jawa Tengah itu tinggal di kandang kambing. Dartam, penyandang disabilitas gangguan jiwa itu dipasung keluarganya lantaran kerap mengamuk, setelah depresi ditinggal kekasih hati. 

Oleh keluarga dan dinas sosial lantas Dartam yang dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banyumas. Tapi apa daya, diskriminasi yang diterima, Darkam kemudian kembali pulang lantaran rumah sakit menolak merawat karena tak punya kartu tanda penduduk. Esoknya Bupati Banyumas, Achmad Husein kepada KBR menyampaikan telah memerintahkan RSUD untuk merawat Darkam. Baru setelah kepala daerah turun tangan RSUD mau merawat Darkam. Sungguh tidak sepatutnya.

Diskriminasi bagi penyandang disabilitas tak hanya dialami Darkam. Jutaan lain tanpa kita sadari mengalami diskriminasi. Trotoar yang berundak, angkutan umum, pusat perbelanjaan, kantor pemerintahan mendiskriminasi penyandang disabilitas dengan tak memberi akses bagi mereka untuk menggunakan layanan publik itu. Belum lagi kewajiban menyediakan kuota tenaga kerja disabilitas sebesa1% bagi perusahaan atau lembaga negara juga tak banyak yang memenuhinya.

Besok dunia memperingati Hari Disabilitas. Tahun ini Indonesia mengambil tema “Wujudkan masyarakat inklusif melalui Undang Undang Disabilitas dan strategi multi sektoral “. Sejak hampir 2 bulan silam, Rancangan Undang-Undang Penyandang Disabilitas telah disahkan menjadi RUU inisiatif DPR. 

Para penyandang disabilitas berharap aturan baru itu dapat segera disahkan untuk menggantikan UU tentang Penyandang Cacat yang sudah berusia hampir 20 tahun. Dengan aturan yang lebih baik, diharapkan akan lebih menjamin hak-hak penyandang disabilitas. Tak ada lagi diskriminasi bagi mereka. Akses di berbagai sektor akan jadi kunci keberhasilan penyandang disabilitas membaur dan beraktifitas di masyarakat. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Ikhtiar Membentengi Anak-anak Muda Dari Radikalisme

  • Kepala Korps Brimob soal Penganiayaan Anggota Brimob Terhadap Wartawan LKBN Antara
  • Wakil Ketua KPK Laode M Syarief Soal Sikap KPK Terhadap Pansus Angket KPK Di DPR
  • Mendikbud Muhajir Effendy Soal Penerapan Sekolah Lima Hari Sepekan
  • Jadi Kepala UKP Pembinaan Pancasila, Yudi Latif Jelaskan Perbedaan dengan BP7
  • Siti Nurbaya: Lestarikan Lingkungan Perlu Kejujuran

Pecah Antrian, PT ASDP Merak Pisahkan Kendaraan Pemudik Dengan Kendaraan Niaga

  • Desa Sambirejo Timur Tolak Jenazah Pelaku Teror di Mapolda Sumatera Utara
  • Pengamat: Eks ISIS Harus Direhabilitasi Sebelum Kembali ke Masyarakat
  • Lima Hari Bertugas, Dokter Anestesi Ditemukan Meninggal Dunia

Mudik seakan menjadi rutinitas tahunan dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Bagaimana kesiapan fasilitas sarana dan prasarana mudik tahun ini? Apakah sudah siap pakai untuk perjalanan pemudik?