Papua itu Kita. (Antara)

Papua itu Kita. (Antara)

Selama beberapa pekan terakhir hiruk pikuk di Senayan hanya tertuju pada satu hal, yaitu kasus dugaan pelanggaran etika yang melibatkan Ketua DPR Setya Novanto. Ia diduga bermain calo untuk memperpanjang kontrak PT Freeport, sebuah perusahaan tambang raksasa Amerika Serikat di bumi Papua. Sorotan hanya berputar-putar pada para politisi dan pengusaha elit di Jakarta yang diduga memburu rente dari eksploitasi pertambangan di Papua.

Sedikit atau jarang sekali isu Papa Minta Saham Freeport ini menarik perhatian media dan publik pada masalah-masalah di Papua, seperti pembangunan Papua, dan kesejahteraan warga di sana. Nama Papua sepertinya tidak terlalu penting, kalah seksi dan menarik dibanding Setya Novanto. Warga Papua, seolah hanya pemain figuran di drama Freeport yang dipertontonkan di ibukota.

Kapan kita memperhatikan Papua? Berapa banyak tokoh nasional yang sudi memperhatikan Papua dengan sepenuh hati?

Jujur saja, para elit politik nasional maupun media sepertinya hanya memperhatikan Papua setiap 1 Desember, dimana ratusan personel TNI dan Polri selalu disiagakan setiap tanggal itu. Atau ketika terjadi bentrokan senjata atau kekerasan militer. Polisi dan TNI juga memperhatikan serius Papua setiap 14 Desember, yang dikenal sebagai hari Kemerdekaan Bangsa Melanesia Barat.

Perhatian ke Papua juga mungkin baru muncul ketika terjadi musibah kemanusiaan, seperti meninggalnya puluhan orang secara misterius di Kabupaten Nduga, baru-baru ini. Itu pun perhatian yang setengah hati, dan kemungkinan bakal cepat menghilang. Itu seperti ketika publik menengok ke Yahukimo pada 2005, ketika wilayah itu dilanda kelaparan dan krisis pangan, yang juga terjadi pada bulan Desember.

Kita pantas meniru sikap Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dalam memperhatikan nasib warga Papua.

Bulan ini warga Papua akan memperingati perubahan nama daerah mereka, dari Irian Jaya menjadi Papua. Gus Dur lah yang mengembalikan nama Papua itu pada 31 Desember 1999. Perubahan yang sangat penting bagi warga, mengingat itu merupakan pengembalian identitas mereka. Di akhir bulan ini, warga Papua juga akan memperingati tanggal wafatnya Gus Dur sebagai salah satu tokoh nasional yang begitu peduli pada nasib mereka.

Setiap bulan Desember dicanangkan sebagai Bulan Gus Dur. Tidak ada salahnya juga, kita menjadikan sekaligus bulan Desember sebagai Bulan Papua. Kita berikan perhatian serius selama sebulan penuh ke wilayah paling timur Indonesia yang selama ini paling dianaktirikan. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!