Ilustrasi.

Ilustrasi.

Selama lima tahun terakhir, istilah nettizen atau warga dunia maya makin populer di masyarakat Indonesia, khususnya kalangan menengah. Kiprah nettizen mewarnai banyak proses pertumbuhan bangsa ini.

Kekuatan nettizen juga terlihat dalam setiap proses demokrasi, termasuk dalam pemilihan gubernur DKI pada 2012 dan pemilihan presiden 2015. Meski hanya bermodal perangkat selular, komputer dan internet, kekuatan nettizen melalui media sosial turut menentukan kemenangan dan kekalahan seseorang yang bertarung di pesta demokrasi.

Suara nettizen juga makin bergaung ketika laman gerakan sosial melalui dunia maya Change.Org membuka perwakilan di Indonesia tahun 2012. Suara publik yang selama ini menemui jalan buntu di jalur pengaduan konvensional mendapat muara.

Ketika institusi publik maupun lembaga wakil rakyat lambat merespon keluhan, demokrasi menemukan saluran baru melalui laman Change.Org. Petisi online menjadi ajang demonstrasi maya yang efektif menggalang dukungan untuk isu-isu publik. Banyaknya kemenangan yang bisa diraih dari tekanan bersama komunitas digital, membuat nettizen pengguna Change.Org meningkat hampir dua kali lipat dalam setahun terakhir.

Perkembangan komunikasi dan teknologi informasi juga menantang nettizen untuk mencari cara terbaik dan efektif mengawasi proses-proses demokrasi dan pembangunan. Para nettizen membuat aplikasi yang memudahkan orang mengawasi pemilu, pilkada, hingga pengawasan penggunaan dana desa. Kian hari kian banyak orang berpartisipasi dalam pembangunan, meski itu dari pojok kamar dengan berbekal telepon pintar dan sambungan internet.

Tanpa kita sadari, kita sudah menjadi bagian dalam catatan sejarah demokrasi digital di negeri ini. Nettizen menjadi saksi sekaligus pelaku perubahan di banyak hal. Mulai dari politik, hukum, lingkungan, dan banyak isu publik lain. Tahun 2015 yang sebentar lagi berakhir telah membuktikan, kekuatan nettizen luar biasa dahsyat.

Ini patut menjadi perhatian bagi para elit politik, penguasa, pemangku jabatan publik agar tidak main-main dalam membuat kebijakan. Jika tidak mau berhadapan dengan kekuatan nettizen yang tidak bisa dibendung lagi. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!