Ilustrasi. (BNPB)

Ilustrasi. (BNPB)

Di penghujung tahun 2015 Badan Nasional Penanggulangan Bencana BNPB memberikan peringatan soal sejumlah bencana yang bakal terjadi di tahun 2016.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo nugroho mewanti sejumlah bencana seperti banjir, longsor dan puting beliung bakal sering terjadi tahun depan. Prediksinya mulai terjadi bulan Januari. Potensi terjadinya bencana bahkan diperkirakan meningkat dengan hadirnya La Nina di pertengahan 2016.

Mari tengok sebentar kasus kebakaran hutan dan lahan akibat kemarau panjang tahun ini.

Kejadian Karhutla kurun Juni hingga Oktober 2015 menimbulkan kerugian hingga Rp 221 triliun. Itu di luar penghitungan kerugian sektor kesehatan, pendidikan, plasma nutfah, emisi karbon dan lainnya. Angka itu setara dengan 1,5 persen Produk Domestik Bruto nasional. Kerugian itu lebih tinggi dibandingkan kejadian serupa tahun 1997 yang sebesar Rp 60 triliun. Sementara dana yang digelontorkan untuk mengatasinya sebesar Rp 720 miliar.

Itu baru untuk pemadaman kebakaran dari anggaran BNPB, di luar dari dana yang dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera) dan Kementerian Kesehatan.

4 bulan terjadi Karhutla, 24 orang meninggal dunia, lebih dari 600 ribu orang terjangkit ISPA, 60 juta orang terpapar asap dan menghanguskan 2,61 juta hektare hutan dan lahan.

Atas kerugian sebesar itu kita tentu tak mau menuding ini semata tanggungjawab pemerintah. Namun respon pemerintah atas bencana, sialnya, seperti sudah terpola.  Reaktif, bergerak saat peristiwa terjadi. Ini sangat disayangkan padahal prediksi bencana selalu disampaikan jauh-jauh hari. Mestinya bisa ditangkap untuk segera diformulasikan dalam bentuk langkah-langkah antisipasi.

Belakangan melalui Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan pemerintah mengaku salah memprediksi dampak badai El Nino. Dia juga mengakui pemerintah sudah menerima laporan soal dampak badai itu sejak Maret silam. Belajar dari itu, sudah semestinya kita lebih siap menghadapi bencana di tahun mendatang. Jangan lagi kita baru sibuk ketika korban berjatuhan dan bencana meluas hingga sulit dikendalikan.

Mari bertanya, sudah seberapa siap kita mengantisipasi dan meminimalkan dampak yang mungkin timbul akibat bencana hidrometeorogi yang diprediksi terjadi tahun 2016? 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!