Foto: KBR

Foto: KBR

Setiap jelang akhir tahun, sejak 15 tahun silam, pasca bom malam Natal, polisi disibukkan mengerahkan ribuan personil untuk menjaga gereja yang akan melaksanakan kebaktian Natal. Bahkan kerap kali pengamanan bisa absurd seperti dilakukan kepolisian Bogor. Dengan melibatkan satpol PP (Pamong Praja), kepolisian berencana menjaga gereja GKI Yasmin. 

Upaya kepolisian ini punya alasan, pekan lalu aparat menangkap 9 terduga teroris di berbagai daerah. Menggunakan kode baru “konser” mereka merencanakan melakukan aksi pada bulan ini. Karena itulah penjagaan diperketat dengan mengerahkan banyak personil. Organisasi sosial kemasyarakatan seperti Barisan Anshor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama juga terlibat dalam penjagaan gereja. Karena itulah gereja yang berisiko seperti Yasmin tak luput dari penjagaan aparat kepolisian.

Padahal, bangunan gereja GKI Yasmi sudah cukup lama dalam keadaan tak terurus. Ini lantaran disegel pemkot Bogor sejak 7 tahun silam. Dalam kasus ini Mahkamah Agung pada Desember enam tahun lalu sudah membatalkan penyegelan yang dilakukan pemkot Bogor. Faktanya hingga saat ini bangunan masih tak dapat digunakan. 

Bahkan tahun lalu saat jemaat merayakan Natal di depan gerejanya satpol PP bersama sekelompok orang memaksa membubarkan. Sejak itulah GKI Yasmin bersama dengan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Filadelfia yang juga tak bisa beribadah di gerejanya, menggelar ibadah setiap Minggu di depan Istana.

Sembari melakukan penjagaan, pemerintah baik di pusat maupun daerah semestinya memberikan jaminan bagi warganya menjalankan haknya termasuk dalam beribadah. Apalagi bagi tempat ibadah yang telah dimenangkan oleh pengadilan. Melarang juga menghalangi orang beribadah sesungguhnya juga teror bagi kebebasan menjalankan hak sesuai konstitusi pasal 29. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!