Stop Kekerasan

Pemerintah mesti tegas menindak bibit-bibitnya.

Rabu, 17 Des 2014 09:19 WIB

kekerasan, Peshawar, Pakistan, Malala Yousafzai, taliban

Entah apa dosa anak-anak ini hingga jadi target gerombolan bersenjata. Sebanyak 126 orang, sebagian besar  anak-anak  tewas menjadi korban serangan Taliban di Peshawar, Pakistan.  Kita tak berharap jumlah itu akan bertambah, tapi masih ada 100an anak lainnya yang  kini masih dalam perawatan. Kita berharap mereka sembuh, pulih dari trauma dan bisa kembali bersekolah.

Kelompok Taliban mengaku bertanggungjawab atas serangan itu. Juru bicara mereka berdalih, ini adalah balasan karena tentara juga menjadikan keluarga mereka sebagai sasaran. Maka kemarin datanglah enam orang bersenjata ke sekolah  yang tengah melaksanakan ujian itu. Seperti kehilangan akal sehat, memberondongkan senjata hingga mengakibatkan seratusan anak tewas, seratusan lainnya terluka.

Bukan kali ini saja Taliban menyerang anak-anak. Malala Yousafzai, remaja putri Pakistan dua tahun silam lolos dari kematian setelah kepalanya ditembak  Taliban. Beberapa waktu lalu Komite Nobel di Norwegia menganugerahinya Nobel perdamaian. Penghargaan pada Malala yang memperjuangkan hak anak di antaranya untuk mendapat pendidikan. (Baca: Duka Malala untuk Serangan Taliban di Peshawar)

Mungkin kelompok Taliban ini sudah di puncak keputusasaan, sehingga menjadikan perempuan dan anak-anak sebagai target. Kelompok rentan yang mestinya diberi perlindungan malah jadi sasaran. Keputusasaan memang menghilangkan akal sehat.

Lewat pendidikan, akal sehat dibentuk dan dipelihara. Sepertinya itulah yang tengah diperangi oleh kelompok-kelompok ekstrimis semacam taliban ini. Terus-menerus menebar teror kekerasan, menyebarkan ketidakwarasan.

Kita berharap teror itu tak menyebar pula di negeri ini.  Para ulama, cerdik pandai mesti bersatu mengutuk aksi-aksi kekerasan semacam itu. Sembari melakukan gerakan penyadaran untuk membangun kesadaran bersama bahwa kekerasan bukan solusi dan musuh bersama. Pemerintah juga mesti tegas menindak bibit-bibitnya. Dimulai dengan menindak benih semacam mereka yang gemar mengobral kebencian, mengobarkan kemarahan atas dasar prasangka suku, agama dan juga ras.

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

DPR Sahkan UU Pemilu, Jokowi : Sistem Demokrasi Berjalan Baik

  • Gerindra Yakin MK Batalkan Pasal Pencalonan Presiden di UU Pemilu
  • UU Pemilu Untungkan Jokowi
  • Hampir Empat Bulan, Jadup Banjir Aceh Tenggara Belum Cair

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.