Sidney dan Solidaritas Spontan Warga Australia

Apa yang terjadi di Sidney, mestinya bisa menjadi cermin bagi kita di Indonesia.

Selasa, 16 Des 2014 09:38 WIB

sidney, australia, Man Haron Monis, Martin Place

Sebuah kafe bisa jadi hanya sekadar tempat nongkrong, sembari menikmati teh atau kopi pada pagi atau sore hari. Sebuah kafe juga bisa menjadi tempat pemberhentian sementara, entah sedang sendirian atau sambil menunggu seseorang yang mungkin akan datang.

Tapi sebuah kafe pun terkadang menjadi tempat mengirim pesan.

Senin pagi kemarin sebuah kafe di kawasan bisnis yang sibuk di kota Sidney, Australia,mendadak terkenal ke seluruh dunia. Seseorang bersenjata, menyandera puluhan orang di dalam kafe yang terletak di pusat perbelanjaan Martin Place. Lima di antara puluhan sandera sudah berhasil meloloskan diri. Tapi sebagian lain masih terjebak di dalam. Sebuah bendera hitam bertuliskan huruf Arab, berbunyi “Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah rasulnya” dibentangkan di jendela. (Baca: Penyanderaan Kafe di Sidney Berakhir, 3 Tewas)

Laporan media internasional mengidentifikasi penyandera itu berkebangsaan Iran. Namanya Man Haron Monis. Ia seorang penerima suaka politik. Man Haron Monis menyebut dirinya sendiri sebagai ulama dan bukan orang yang asing bagi kepolisian dan pengadilan Australia.

Ia pernah menulis surat beracun kepada sebuah keluarga tentara Australia yang tewas dalam serangan bom di Hotel JW Marriot di Jakarta pada 2007. Ia juga dituduh terlibat dalam pembunuhan istrinya. Yang terbaru, ia dituduh dalam 50 lebih kasus tindakan asusila dan kekerasan seksual, yang berhubungan dengan profesinya sebagai seorang “dukun”.

Masih belum jelas, apa motivasi Monis membuat geger dunia dalam kasus penyanderaan itu.Yang kemudian menarik perhatian adalah reaksi publik Australia. Melalui media sosial, terutama twitter, berbagai ungkapan atas kasus yang dikategorikan sebagai aksi terorisme meruak dari berbagai belahan dunia. Salah satu tanda pagar yang kemudian menjadi trending topic adalah #Illridewithyou (I will ride with you) atau “Aku akan pergi bersamamu”.

Tanda pagar ini muncul sebagai ungkapan solidaritas terhadap warga Muslim yang tinggal di Australia agar mereka tak takut kalau hendak bepergian. Ungkapan itu sekaligus mencegah agar kasus ini tidak dimanfaatkan para pembenci Islam. Mereka, terutama warga Sidney dan Australia pada umumnya sadar, apa yang dilakukan oleh Man Haron Monis bukanlah representasi Islam.

Apa yang terjadi di Sidney, mestinya bisa menjadi cermin bagi kita di Indonesia. Warga Australia, yang spontan membela warga Muslim yang tak bersalah dari kemungkinan persekusi, sudah memberi contoh terbaik. Kita bersama mereka.

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Indonesia masih menghadapi masalah jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi. Pertambahan jumlah penduduk tidak seimbang dengan pertumbuhan kesempatan kerja.