Cak Munir, apa kabar kamu di sana? 


Mungkin masih kesal ya karena Pollycarpus baru-baru ini keluar dari penjara. Ini seperti kado yang buruk untuk ulang tahunmu yang ke-49 hari ini. Pemerintah masih bersikeras kalau ini hanya menuruti aturan hukum. Pollycarpus hanya menjalani 8 dari 12 tahun vonis penjara yang dijatuhkan. Katanya karena ini sesuai aturan hukum. Tapi mestinya mereka tahu kalau kasus pembunuhan terhadapmu bukan hal yang biasa-biasa saja. Jika seorang aktivis HAM kaliber dunia macam kamu, Cak Munir, saja bisa diracun, apa nasibnya orang biasa seperti kita-kita ini?


Cak Munir, bagaimana rasanya berada di sana dan melihat keluargamu melanjutkan kehidupan? 


Suciwati, istrimu, masih gigih memperjuangkan keadilan untukmu. Di peringatan 10 tahun kasus pembunuhanmu pada September lalu, ada setitik sedih di matanya. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar. Bukan rentang yang pendek untuk mencoba memahami kenapa bisa seseorang dibunuh, bagaimana bisa seorang Presiden berjanji menuntaskan kasusnya, lantas tak ada apa pun yang terjadi?


Suciwati adalah perempuan terbaik bagi seorang Munir. Kekuatan Suciwati tak tergerus waktu meski sudah 10 tahun. Ia tak keberatan menunggu lebih lama lagi, katanya, tapi ia pun berharap keadilan bisa segera datang. Kekuatan, sekaligus kegelisahan itu juga yang mungkin ada di pikiran dan hati orangtua yang anaknya hilang diculik – yang kasusnya juga ditangani oleh Cak Munir. Yang ditunggu adalah kejelasan dan keadilan; sesuatu yang mudah diucapkan tapi sulit sekali diperoleh. 


Cak Munir, anak-anakmu sekarang sudah besar. 


Alif kini sudah jadi remaja tanggung, 16 tahun usianya. Anak bungsumu, Diva, sudah 12 tahun. Merea berdua masih terlalu kecil ketika kamu diracun arsenik 10 tahun silam. Tapi Juli lalu, Diva sudah naik panggung lho. Membaca puisi diiringi gitar dari Fajar Merah, anaknya Wiji Thukul. Di atas panggung, Diva dan Fajar punya kesamaan yang tegas: ayah mereka dihilangkan secara paksa. Dan Fajar, begitu juga Diva dan Alif, mesti  menanggung akibatnya: tumbuh besar tanpa sang ayah. 


Dalam bahasa Arab, Munir artinya cahaya. Tapi cahaya itu belum juga datang di lorong gelap panjang bernama pencarian pembunuh Munir. Kami terus melawan rasa abai dengan kampanye Melawan Lupa yang tak henti-henti. 


Cak Munir, selamat ulang tahun yang ke-49 ya. Maaf kami belum bisa menemukan pembunuhmu. 


Simak sajian khusus artikel dan audio terkait 10TahunMunir di sini


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!