golkar, ical, agung laksono, agun gunanjar, nurdin halid

Tak ada yang mengejutkan dari Musyawarah Nasional Partai Golkar di Bali. Ibarat sandiwara, skenarionya mudah ditebak dari awal. Kehadiran para dedengkot partai koalisi pendukung Prabowo di arena Munas membuktikan satu hal: Aburizal Bakrie alias Ical harus tetap jadi penguasa partai beringin.

Aroma ketidakberesan Munas Golkar terasa begitu menyengat. Mulai dari ambisi begitu kuat dari kubu Ical untuk mempercepat Munas, tata tertib diubah sana sini, sampai rekaman pertemuan tertutup antara Panitia Munas Nurdin Halid untuk mempengaruhi peserta agar mendukung Ical. Dua pesaing Ical dalam perebutan kursi ketua umum pun mundur sebelum perang. Golkar pun tetap di genggaman Ical.

Munas kali ini juga tak ubahnya adegan komedi. Sebelum Munas digelar, kubu presidium penyelamat partai Golkar yang dipimpin Agung Laksono memecat Ical dari ketua umum. Otomatis Ical tak bisa lagi menyelenggarakan Munas. Tapi Ical dan kroninya cuek. Munas tetap digelar, bahkan kubu Ical ganti memecat Agung Laksono dan kawan-kawan.

Golkar dan Ical menyuguhkan apa yang sebelumnya disembunyikan; kekuasaan oligarki dan otoriter.

Ketika Agung dkk melawan, bisa diduga babak berikutnya akan seperti adegan adu kuat legalitas, seperti yang dulu dialami Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Bulan Bintang atau Partai Persatuan Pembangunan yang juga masih berseteru hingga kini.

Beberapa hari sebelum dipecat Ical, Agun Gunanjar, salah seorang kader Golkar menyebut jangan heran kalau Golkar bakal hancur. Jika muka-muka lama tetap dipertahankan. (Baca: Agun Gunanjar: Ada Pengerahan Massa dalam Munas Golkar di Bali)

Golkar yang dulu seolah solid, berkali-kali jadi juara pemilu, ternyata rapuh di dalam. Sejak beberapa tahun lalu muncul sempalan berujud partai baru. Termasuk Prabowo Subianto yang membelot lewat membentuk Gerindra dan kini anehnya bergandeng tangan dengan Ical. Apalagi sekarang sedang musim segala sesuati dibuatkan tandingannya.

Syahwat kekuasaan memang bisa membuat kawan jadi lawan, atau sebaliknya. Pintu islah yang sudah terbuka pun ditutup lagi.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!