Ilustrasi/Danny Setiawan

Selasa dinihari, sebuah benda diduga bom meledak di kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Tak ada laporan korban jiwa dalam ledakan yang cukup kencang itu. Ledakan mengakibatkan satu unit motor dan mobil terbakar.  Kepolisian masih menyelidiki apa persisnya penyebab ledakan tersebut.

Setiap bulan Desember mendadak kita seperti dilanda gelombang was-was. Ledakan yang bisa jadi   bersumber dari apa saja membuat kita menduga itu adalah bom.  Rangkaian bom malam Natal di berbagai kota 14 tahun silam, berhasil menanamkan hantu dalam benak kita. Belasan tahun berlalu teror itu belum juga bisa enyah dari ingatan.

Tak heran setiap Desember kepolisian disibukkan urusan pengamanan gereja. Ratusan ribu personil dikerahkan untuk memastikan peristiwa itu tak terulang. Pengaman juga melibatkan berbagai organisasi kemasyarakatan seperti Banser – Anshor. Di beberapa gereja Jemaat yang ingin beribadah Natal mesti diperiksa atau melewati pemindai logam. Begitu terus berulang setiap penghujung tahun, peringatan yang mestinya diisi dengan kegembiraan selalu dibalut kecemasan. (Baca: Tiga Ribu Polisi Amankan Natal dan Tahun Baru di Jakarta)

Kecemasan itu beralasan. Data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mencatat, semenjak perang melawan teroris dilakukan pasca bom Natal, hampir 1000 orang telah ditangkap. Sebanyak hampir 400 di antaranya yang telah menjalani hukuman kini telah bebas. Siapa bisa menjamin mereka tak akan kembali beraksi? BNPT bahkan mencatat mereka yang masih dalam penjara  itu justru semakin radikal.

Program deradikalisasi pemerintah sepertinya kalah cepat dengan upaya radikalisasi kelompok ekstrim ini. Lihat misalnya meningkatnya jumlah WNI yang terlibat berbagai aksi di manca negara, seperti di Suriah. Bila pada   Juli lalu BNPT memperkirakan jumlahnya hanya 60an, maka pada Oktober melambung menjadi hampir 300 orang. Bila ditambah data yang belum teridentifikasi, maka jumlahnya diperkirakan mencapai 800 orang.

Kewaspadaan dan pengamanan sepatutnya tetap ada. Tidak hanya oleh kepolisian, tapi juga melibatkan berbagai organisasi di masyarakat. Kita tak ingin teror kembali terulang. Tapi kita juga rindu akan hari raya yang sepenuhnya gembira... tanpa cemas. 


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!