air asia, qz8501, badan sar, tony fernandes, media

Hingga semalam, belum jelas bagaimana nasib 155 penumpang dan 7 kru yang berada di dalam pesawat Air Asia QZ8501. Terhitung jam 7 pagi kemarin, pesawat Air Asia itu mulai hilang kontak dan tak ada kabar apa pun sampai sekarang. Pencarian terpaksa dihentikan sementara kemarin lantaran ada kendala cuaca. Komando pencarian pesawat mulai diberlakukan hari ini.

Yang paling memilukan adalah ketika melihat manifes penumpang alias daftar nama penumpang yang ada di pesawat tersebut. Ada kelompok-kelompok kecil nama yang memiliki kesamaan nama belakang. Mudah ditebak, mereka adalah satu keluarga. Dan menilik waktu saat ini, sangat mungkin keluarga-keluarga ini menuju ke Singapura untuk liburan akhir tahun.

Kabar buruk memang selalu datang tiba-tiba. Kumpul keluarga yang semestinya bahagia, tapi kini belum jelas nasibnya. Pesawat menabrak? Jatuh? Bagaimana nasib penumpangnya? Tak ada satu pun yang punya jawaban. Badan SAR Nasional tengah bekerja keras mencari jawaban untuk tiga pertanyaan itu. Ditambah dengan bantuan dari negara-negara tetangga, kita hanya bisa berharap jawaban itu segera ditemukan.

Ini bukan tahun yang baik bagi Malaysia dan industri penerbangan mereka. Bulan Maret lalu ada insiden menghilangnya MH 370 yang hingga kini hilang tanpa jejak. Sementara MH17 juga bernasib buruk dengan kondisi tewas tertembak. Kali ini giliran Air Asia. CEO Air Asia Tony Fernandes langsung terbang dari Malaysia ke Surabaya untuk menyampaikan sendiri pernyataan pers mereka. Apalagi ini kejadian pertama bagi Air Asia. (Baca: CEO Air Asia: Kami Fokus pada Keluarga Penumpang dan Kru Pesawat)

Yang ikut diuji dalam situasi seperti ini adalah media dan kepekaannya. Atas nama misi mengejar berita, masih ada saja media yang dianggap tak cukup sensitif. Menanyakan pertanyaan yang tak perlu, menanyakan harapan yang sudah pasti sama, serta menyorot lekat-lekat pada wajah duka penuh tangis. Dari pengalaman bencana sebelumnya semestinya media juga bisa belajar untuk bersikap sensitif terhadap kisah sedih. Tak melulu mengedepankan misi mengejar berita.

Ini adalah duka kita bersama. Pesawat belum jelas ada di mana, keluarga cemas menanti. Ini adalah saatnya untuk saling membantu. Bukan hal yang menyenangkan untuk menutup 2014.  Tak elok kalau kita memikirkan terompet tahun baru di tengah rundungan berita sedih ini. Inilah saatnya untuk menunduk dalam-dalam. Serta berdoa untuk keluarga dan kerabat penumpang serta kru Air Asia QZ8501.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!