Melawan Cheribel

Sebutannya manis: Cheribel. Mirip dengan grup girl band Cherry Belle.

Jumat, 05 Des 2014 09:15 WIB

Cheribel, miras, oplosan, alkohol, garut

Sebutannya manis: Cheribel. Mirip dengan grup girl band Cherry Belle. Kemiripan nama, berbanding terbalik dengan dampaknya. Yang pertama membawa kedukaan, yang kedua membawa penghiburan bagi para penggemarnya.

Cheribel pembawa duka ini sebutan untuk minuman keras oplosan di Garut dan Sumedang, Jawa Barat. Hingga kemarin sudah puluhan orang tewas lantaran menenggak minuman ini. Sebanyak 16 warga meninggal di Garut dan sembilan di Sumedang.

Ini bukan kali pertama minuman oplosan menelan banyak korban jiwa di berbagai daerah. Dua bulan silam, 12 warga Magelang, Jawa Tengah juga tewas karena menenggak minuman keras oplosan. Sedangkan pada Agustus, sebanyak lima orang di Bekasi, Jawa Barat tewas juga karena menenggak miras.

Deretan kasus yang menelan banyak korban jiwa ini sepertinya tak mampu membuat orang jera membuat juga mengonsumsi minuman keras oplosan. Di mana ada permintaan, di situ pembuat memanfaatkan untuk mendulang uang.

Sebagian tradisi kita memang mengenal perayaan dengan mengkonsumsi minuman beralkohol. Karena itu, di berbagai daerah kita kenal beragam sebutan untuk minuman keras produksi lokal. Dari mulai arak, cukrik, ciu, sopie sampai topi miring.

Nyaris tepat, setahun silam, pada 6 Desember Preside Susilo Bambang Yudhoyono telah meneken Peraturan Presiden tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol. Mereka yang ingin memproduksi miras, mengedarkan atau menjualnya harus memiliki izin usaha, edar dan perdagangan. Lini ini yang tampaknya lemah dari pengawasan. Orang lantas seenaknya membuat, mengedarkan dan menjualnya bahkan pada anak di bawah umur. (Baca: Konsumsi Miras Harus Disertai Kesadaran dan Tanggung Jawab)

Dengan aparat pengawasan yang   bekerja dengan baik, produk yang dihasilkan sedari awal bisa dibatasi prosentase alkoholnya sesuai aturan. Hingga di ujung, tempat penjualan yang diperbolehkan sampai mereka yang boleh membelinya juga rutin  diawasi. Jadi bukan sekadar reaktif bertindak manakala korban telah berjatuhan.

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau