Green Radio, KBR, 89.2 FM, KBR menghilang dari udara Jakarta

Beberapa jam lagi, tahun 2014 berlalu. Beberapa teman berkirim simpati, karena mendengar KBR dan Green Radio akan berhenti siaran.  Tutup bersama kalender yang ditutup.  Sampai ada yang menulis pesan : Save KBR.  Saya berterimakasih pada dukungan teman-teman. Tetapi kecemasan itu,  mungkin sedikit berlebihan. Frekwensi 89,2 FM yang selama ini menjadi tempat KBR dan Green mengudara di Jakarta memang sudah pindah tangan. Dan kami tak akan bisa lagi bersiaran di situ. KBR dan Green Radio, mulai esok hilang dari udara Jakarta. Tetapi, tentu saja kami masih tetap siaran.


KBR tetap akan menyapa 10 juta pendengarnya, lewat radio jaringan. Ada 700 radio di seluruh Indonesia yang menyiarkan program-program KBR setiap hari.  Mereka mengambil buletin, kabar baru, unjuk-wicara, dokumentasi, yang cocok dengan kebutuhan pendengar masing-masing.  KBR selama lima belas tahun terakhir telah menjalin kerjasama dengan radio-radio, melayani kebutuhan pendengar akan informasi berkualitas.  Di samping menyediakan ruang untuk bertukar gagasan.  Peran itu sama sekali tidak berubah, meski kami kehilangan frekwensi di Jakarta.


Memang pendengar di ibukota jadi sedikit lebih repot. Anda tak akan menemui suara penyiar kami lagi di FM 89,2.  Itu sebabnya, hari-hari ini kami getol mengajak Anda mengunduh aplikasi TuneIn. Setelah itu, cari dan ikuti KBR. Lewat medium daring itu, kami berharap untuk terus menjumpai warga Jakarta. Berbagi cerita, dan mengajak Anda terlibat membicarakan berbagai hal kemasyarakatan. Kehilangan frekwensi itu, malah jadi semacam cambuk, untuk kami segera memasuki wilayah baru, menekuni siaran lewat media daring.  Kata orang, masa depan media terletak di sini. Tak terkecuali radio.  Kehilangan frekwensi analog di Jakarta, mendorong kami loncat ke lapak baru.   


Pendengar KBR lewat tune ini, malam ini baru 120 orang. Itupun sebagian besar karyawan KBR sendiri.  Tapi, kami berharap Januari 2015 bisa ditutup dengan 1.000 orang. Dan kemudian naik menjadi 10.000 dan terus 100.000 orang.  Bila itu tercapai, saya perkirakan pendengar KBR di Jakarta, sudah kembali ke level ketika kami masih mengandalkan frekwensi 89,2 untuk menyapa warga ibukota.  Impian itu semoga tak terlalu muluk, dan bisa dicapai pada semester pertama Tahun 2015.  Kami sungguh berharap dukungan kawan-kawan untuk mengunduh dan mengikuti KBR lewat tunein.  Syukur-syukur turut menyebarkan ke lingkungan terdekat. 


Kami juga mengembangkan media daring sendiri, www.portalkbr.com. Portal ini ingin menyediakan ruang untuk seluruh anggota jaringan KBR, memasuki era digital. Tiap radio akan mempunyai website, dan siaran streaming yang dihubungkan ke portalkbr.  Dan karena KBR tiap hari berurusan dengan suara, kami ingin mengembangkan situs yang kuat dalam akses dan keragaman suara.  Desember ini, misalnya, kami menampilkan dokumentasi suara almarhum Munir dan Gus Dur. Dua tokoh penting Indonesia, yang layak didengar generasi kapanpun.  Kami bangga dapat menyajikan suara itu lagi, terutama untuk warga yang pada masa lalu belum pernah mendengar langsung suara Gus Dur atau Munir.  Atau juga untuk mereka yang ingin kangen-kangenan mendengar tokoh idola.


KBR ingin merekam lebih banyak suara, menyiarkan dan mendokumentasikannya. Bukan hanya suara tokoh atau sumber berita yang tiap hari kami buru, tetapi juga suara orang biasa. Dengan begitu, KBR ingin menjadi bagian dari sejarah manusia dan masyarakat Indonesia. 


Lalu bagaimana Green Radio? Radio yang didirikan 2008, untuk memberi ruang pada perbincangan soal-soal lingkungan itu, memang akan hilang dari Jakarta. Tidak ada lagi siaran yang mengajak Anda menanam pohon untuk perbaiki hulu Ciliwung.  Tidak ada lagi siaran untuk mendukung perlindungan owa Jawa, di udara Jakarta.  Tetapi, gagasan tentang jurnalisme yang lebih peduli pada lingkungan, tidak mati begitu saja.  Sebagian program Green akan diadopsi KBR, menjadi siaran dengan jangkauan nasional.  Misalnya, program Setapak (tata kelola lahan dan hutan), akan terus dilanjutkan, di berbagai kota, dengan Jakarta mencari radio partner yang lain. 


Dan, yang penting : ide Green Radio akan terus dikembangkan. Awal Januari ini, Green Radio Pekanbaru akan berulang tahun yang pertama.  Radio ini akan meneruskan niat menyebarkan cara hidup ramah lingkungan.  Pekanbaru sangat cocok untuk pengembangan Green Radio, mengingat berbagai persoalan lingkungan yang akut terjadi di Riau.  Di tempat ini pula, Presiden Jokowi mempertaruhkan kredibilitasnya melawan asap.  Bencana yang belasan tahun tidak selesai ditangani beberapa presiden. Apakah tahun 2015 Riau masih akan berkabut asap? Green Radio ada untuk turut menyaksikan, dan mengabarkan ikhtiar kita bersama mengatasi asap. Juga keinginan yang kuat agar hutan-hutan tersisa di Indonesia, tak lagi digunduli.


Memasuki 2015, kami memang disibukkan dengan lapak baru.  KBR di Jakarta migrasi ke media daring.  Induk Green Radio bergeser cukup jauh, dari Jakarta ke Pekanbaru.  Tapi niat melayani pendengar, sama sekali tak berubah.


Penulis adalah Direktur Utama KBR. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!