Hak Asasi Manusia, HAM, Enarotali, Papua, penembakan

Seharusnya hari ini kita bisa merayakan hari Hak Asasi Manusia (HAM) sedunia dengan suka cita. Penghormatan pada kemanusiaan, penghargaan pada kehidupan. Sayangnya kali ini kita harus memperingati dengan kepedihan. Lima warga Enarotali, Papua, sebagian besar anak sekolah tewas diterjang peluru aparat, dua hari lalu.

Pedih, bagi keluarganya dan mereka yang menghargai kehidupan dan terus berupaya merawat  kemanusiaan.  Kemarin Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan keprihatinannya. Ia juga memerintahkan Kepala Keposilisian Indonesia untuk menyelidiki penembakan warga sipil yang berunjukrasa di lapangan Karel Gibai, Kabupaten Paniai pada Senin kelam itu.

Prihatin dan penyelidikan saja tentu tak cukup. Harus ada perbaikan yang mendasar dalam cara aparat –juga pemerintah—menangani masalah di bumi cendrawasih. Aparat memang mengklaim sudah melaksanakan prosedur  dalam menangani unjuk rasa itu. Di antaranya melalui tembakan peringatan hingga penembakan dengan peluru karet. Penembakan dilakukan karena massa menyerang markas Koramil dan Polsek setempat. (Baca: Lima Warga Papua Tewas Ditembak TNI)

Tapi tindakan kekerasan aparat yang memakan korban jiwa ini jelas menunjukkan ada prosedur yang salah. Yakni, tiadanya penghargaan pada nyawa manusia. Sekelompok massa yang mengamuk, mesti dihadapi dengan niatan melumpuhkan manakala tindakan persuasif tak lagi mempan. Aparat dengan kemampuan menembak jitu, tentu bisa melumpuhkan dengan menjadikan kaki sebagai sasaran tembak. Bukan menjadikan dada atau kepala yang mematikan sebagai sasaran peluru.

Karena itu kita mendesak penyelidikan kasus ini dilakukan dengan transparan. Ada baiknya juga melibatkan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dan  organisasi HAM  dalam penyelidikan. Demi  keadilan dan penghormatan pada nyawa anak manusia yang hilang di Enarotali Papua. Dan demi agar kasus serupa tak terulang kembali.

Selamat hari HAM.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!