gereja, gki yasmin, bima arya, bogor, intoleran

Yasmin sudah tidak ada. Tidak ada lagi yang namanya GKI Yasmin.

Kalimat itu meluncur dari Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto. Sejak 2010, gereja yang berdiri di kawasan Taman Yasmin Kota Bogor ini tak bisa diakses oleh para jemaatnya. Bupati Bogor saat itu, Diani Budiarto menyegel gereja dengan dalih GKI Yasmin menyalahi aturan tentang Ijin Mendirikan Bangunan (IMB). Padahal soal ini sudah terbit putusan Mahkamah Agung yang menolak permohonan PK Pemkot Bogor. Ombudsman RI pun sudah mengeluarkan rekomendasi untuk mencabut keputusan Walikota Bogor tentang IMB GKI Yasmin. Tapi semua itu tak dihiraukan Pemkot Bogor.

Semula ada harapan, walikota yang menggantikan Diani akan memiliki sikap yang berbeda. Bima Arya, selain muda, juga cukup dikenal memiliki wawasan yang terbuka. Tapi sayang, harapan itu kandas.  Ia memilih jalan khas penguasa yang hendak cari selamat. Alih-alih membuka segel GKI Yasmin, Bima Arya justru mendorong jemaat gereja itu untuk bergabung dengan jemaat GKI yang terletak di lokasi lain, yakni GKI Pengadilan. Solusi ini ditolak GKI Yasmin. (Baca: Sama dengan Pendahulunya, Bima Arya Ogah Buka Segel GKI Yasmin)

Perjuangan jemaat GKI Yasmin memang tampak begitu berat. Hak-hak konstitusional mereka dijerat, diiintimidasi kelompok-kelompok Islam intoleran. Sementara hak-hak perdatanya ditekuk pemerintah kota. Indonesia sebagai negara hukum, dalam kasus GKI Yasmin, seolah tak punya jejak di kota Bogor. Hukum menjadi beku di sini.

Kasus GKI Yasmin hanya salah satu dari sekian banyak kasus yang mencoreng citra Indonesia sebagai negara demokrasi. Kita tahu, Indonesia juga acap dipakai sebagai model negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia yang berhasil menjalankan sistem politik demokrasi. Ini berbeda dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah yang tak pernah berhenti dari pergolakan. Tapi kasus GKI Yasmin dan beberapa kasus intoleransi lainnya menunjukkan, Indonesia bukanlah sebuah model yang sempurna.

Celakanya, kita belum melihat adanya seorang pemimpin yang berani berdiri di garda depan membela konstitusi. Bahkan seorang Bima Arya yang masih muda, yang memiliki masa depan politik panjang, pun tak bisa jadi sandaran harapan.

GKI Yasmin, bersabarlah.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!