pencurian ikan, nelayan lokal, memasang rumpon, Susi Pudjiastuti, kapal asing ditenggelamkan

Enam kapal nelayan, 3 kapal asal Vietnam dan 3 kapal asal Filipina, akhirnya ditenggelamkan pekan lalu. Tindakan TNI AL dan kepolisian ini merupakan jawaban atas perintah Presiden Joko Widodo beberapa waktu sebelumnya. Perintah itu sejalan dengan kemarahan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, yang berulangkali menyatakan kekayaan laut kita banyak dikuras nelayan asing yang mengakibatkan kerugian ratusan triliun rupiah.

Banyak yang kemudian nyinyir, kapal nelayan itu disebut sebagai perahu karena berukuran relatif kecil. Mereka yang nyinyir ini jelas tak paham masalah. Bukan soal besar kecilnya ukuran kapal yang jadi soal, melainkan Indonesia sudah mengirim sinyal jelas: jangan coba-coba berani lagi mencuri ikan di perairan kita secara ilegal. Lagi pula, mana ada perahu kecil yang berani mengarungi perairan internasional kalau tak ingin diterjang ombak besar?

Sinyal tegas itu perlu diperlihatkan, lebih-lebih karena selama sepuluh tahun belakangan, pemerintah Indonesia terkesan sangat lembek terhadap tindak pencurian kekayaan laut ini. Jelas kita mendukung TNI AL, kepolisian, serta Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk tidak bersikap hangat-hangat tai ayam. Upaya keras ini harus secara konsisten dijalankan. (Baca: Jokowi soal Penenggelaman Kapal Asing Pencuri Ikan: Ini Bukan soal Gagah-gagahan)

Tapi upaya melindungi kekayaan laut dan menyejahterakan nelayan lokal  tak cukup hanya dengan sikap keras terhadap nelayan asing. Upaya itu harus pula dibarengi dengan operasi penangkapan terhadap kapal-kapal yang menggunakan jaring pukat harimau dan kapal gardan. Kedua jenis kapal ini adalah musuh nelayan kecil, karena jaring ganda dan jaring pukat harimau tak hanya mengeruk segala jenis ikan, tetapi juga merusak terumbu karang serta rumpon yang ditanam nelayan lokal. Sering terjadi, karena kapal gardan dan pukat harimau ini dibiarkan berkeliaran bebas, nelayan pun bertindak keras: membakar kapal-kapal itu. Dan jangan heran, pemilik kapal jahat ini tak cuma nelayan asing, tapi juga pengusaha perikanan dalam negeri.

Langkah selanjutnya adalah memperbanyak penempatan rumpon, terutama  di perairan dangkal, di mana nelayan lokal menggantungkan rejeki mereka. Rumpon adalah semacam karang buatan, tempat berkumpul dan berkembangbiak ikan di laut.  Rumpon-rumpon ini bisa menjadi alat bantu bagi nelayan kecil dalam menangkap ikan.

Tindakan keras terhadap pencuri harus dilakukan. Tapi sejalan dengan itu, memberdayakan nelayan kecil juga harus jadi prioritas. Kalau ini dilakukan serentak, cita-cita bu Susi untuk memakmurkan nelayan lokal, pasti akan lebih mudah tercapai.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!