agama, sekolah, anies baswedan

Kementerian Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah yang dipimpin Anies Baswedan tengah menyusun tata tertib aktivitas keagamaan di sekolah-sekolah. Menurut Anies, tata tertib ini diharapkan dapat menjaga keberagaman di sekolah-sekolah.

Bulan lalu kita juga mendengar Kementerian Agama menyelenggarakan Perkemahan Rohis se-Indonesia. Acara itu juga bertujuan sama, mengajarkan praktik inklusivitas dalam beragama di kalangan pelajar SMA. Kementerian Agama memang menengarai adanya penyusupan ide radikal melalui kegiatan keagamaan di sekolah.

Keberagaman, inklusivisme, multikulturalisme memang patut diperkenalkan ke para siswa sejak dini. Indonesia yang plural adalah kekayaan yang layak dirawat dan dikembangkan sebagai salah satu kekuatan bangsa. Kalangan internasional bahkan acap memuji Indonesia sebagai contoh model sebuah negara berpenduduk Muslim terbesar tapi berhasil menerapkan demokrasi secara damai.

Kita tak bisa memungkiri, meski tak semua, sebagian sekolah-sekolah menengah memang “kecolongan” dengan adanya pengajar atau pembicara tamu yang mencekoki para siswa dengan paham radikal. Salah satu indikasinya adalah pemberian materi intoleransi yang mengajarkan kebencian kepada pihak lain.

Hanya karena seseorang dikenal memahami ayat-ayat kitab suci, pihak sekolah lantas mempercayai begitu saja. Entah karena awam atau justru seide, pihak sekolah pun mengijinkan para guru atau pembicara tamu itu mengindoktrinasi para siswa dengan ide-ide yang tak sesuai dengan falsafah bangsa. Tak sedikit kita mendengar para orangtua yang mengeluh atas pemahaman keagamaan anak-anak yang mereka peroleh dari sekolah. (Baca: Kemendikbud Bakal Terbitkan Aturan Kegiatan Keagamaan di Sekolah)

Gagasan Kementerian Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah untuk menyusun tata tertib aktivitas keagamaan mungkin bisa menjadi salah satu filter masuknya paham radikal di sekolah. Tapi harus diingat, ini bukan pekerjaan teknis semata-mata. Bukan sekadar menyaring pengajar tamu atau guru agama, siapa boleh dan siapa tidak boleh mengajar. Pihak pengelola sekolah juga harus diingatkan untuk tidak lepas tangan begitu saja atas materi pengajaran agama dan kegiatan keagamaan yang berlangsung di lingkungan sekolah.

Kita sekarang sudah memasuki abad ke-21. Sungguh sebuah kebodohan semata kalau kita membiarkan anak-anak kita terperosok pada kebencian yang pernah terjadi pada abad pertengahan.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!