Bhinneka

Bukan lantaran kabar kursi presiden jadi target utama di balik aksi-aksi itu. Tapi atas kerendahhatian orang nomer 1 di negeri ini untuk datang, meminta masukan dan mengucap terima kasih.

Jumat, 11 Nov 2016 09:28 WIB

Jokowi bertemu pengurus PBNU

Presiden Joko Widodo (kedua kanan) didampingi Mensesneg Pratikno (ketiga kanan) bertemu dengan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj (kedua kiri), Sekretaris Jenderal PBNU H

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


Beberapa hari berturut-turut Presiden Joko Widodo bersafari mengkampanyekan ke-Indonesiaan. Safari makin intensif pasca aksi 4 November, Jumat  pekan lalu. Pada awal pekan Jokowi mengawali dengan mengunjungi kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebagai organisasi kemasyarakatan Islam terbesar. Dan terakhir kemarin, mendatangi markas Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dan mengundang puluhan pemimpin pondok pesantren se-Banten dan Jawa Barat.

Markas kesatuan TNI dan Polri serta tokoh agama Islam menjadi sasaran kunjungan dan undangan Jokowi. Dari berbagai tempat dan orang yang diundang, nyaris senada pesan Presiden. Mulai dari toleransi, keberagaman, kesatuan, hingga  keutuhan negara. Tak lupa Jokowi menyampaikan ucapan terima kasih atas peran aparat dan ulama sehingga aksi 4 November berlangsung relatif aman.

Langkah silaturahmi politik Jokowi itu patut diapresiasi. Bukan lantaran kabar kursi presiden jadi target utama di balik aksi-aksi itu. Tapi atas kerendahhatian orang nomer 1 di negeri ini untuk datang, meminta masukan dan mengucap terima kasih. Pertemuan kemarin dengan para ulama bahkan dilakukan dengan lesehan di Istana. 

Kerendahhatian itu yang menguap di hirup pikuk urusan penistaan agama berpekan-pekan ini. Semua berlomba menang-menangan dengan tafsir, argumen dan logikanya. Hujatan, kecaman, intimidasi, sampai ancaman bunuh bertebaran melalui media sosial. Lupa bahkan tak peduli dengan keragaman yang menjadikan negeri ini ada. Negeri dengan beragam agama, keyakinan, suku, hingga  bahasalah yang memperkaya negeri ini.

Kekayaan dari keragaman itulah yang tengah dijaga Presiden dan aparaturnya sepekan terakhir ini. Mereka yang sungguh mencintai negara Republik Indonesia sepatutnya mendukung langkah presiden. Bersama menjaga dan merawat kebhinnekaan yang menjadikan negeri ini ada. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Pemerintah sebagai pengemban amanah konstitusi harus yakin dan percaya diri dalam mengendalikan konsumsi rokok. Konstitusi mengamanahkan agar konsumsi rokok diturunkan demi kesehatan masyarakat.