Si Malakama Upah Buruh

Hari ini sekitar lima juta buruh dari berbagai tempat di Indonesia akan kembali menggelar demonstrasi. Mereka menyuarakan tuntutan yang sama dengan aksi sebelumnya.

Selasa, 24 Nov 2015 10:00 WIB

Foto: KBR/Bambang

Foto: KBR/Bambang

Hari ini sekitar lima juta buruh dari berbagai tempat di Indonesia akan kembali menggelar demonstrasi. Mereka menyuarakan tuntutan yang sama dengan aksi sebelumnya, menuntut pencabutan Peraturan Pemerintah atau PP tentang Pengupahan.

Berita-berita di media massa membuat banyak orang khawatir. Baik bagi buruh sendiri, pengusaha, hingga masyarakat yang tak ikut demo. Bagi buruh, kejadian penangkapan 25 orang demonstran pada akhir Oktober lalu bisa menjadi intimidasi atau teror bagi mental mereka yang ingin menuntut aturan pengupahan yang layak. Buruh juga khawatir dengan isu-isu mengenai larangan berdemonstrasi pada 24 November ini, baik dari pemerintah atau aparat kepolisian.

Bagi pengusaha, aksi demonstrasi hari ini menimbulkan kekhawatiran mengenai kegiatan usaha mereka. Karena ada kabar para buruh akan mogok secara nasional. Jika buruh mogok, mesin produksi pasti terganggu, dan angka kerugian bisa muncul di depan mata. Apalagi, jika benar, buruh akan mogok selama empat hari hingga tanggal 27 November.

Demonstrasi besar-besaran juga membuat was-was masyarakat lain, jika terjadi bentrokan antara demonstran dengan aparat, atau kemacetan parah di jalur-jalur yang mereka lewati. Apalagi jika isu demo buruh dipolitisisasi untuk kepentingan tertentu yang melenceng dari kebutuhan buruh.

Dan yang pasti, rencana demonstrasi besar-besaran hari ini juga membuat pusing pemerintah. Bagi pemerintah, buruh dan pengusaha mestinya sama-sama penting. Mencabut PP Pengupahan bakal membuat pengusaha mengeluh, tapi mempertahankan PP Pengupahan juga membuat buruh menangis. Ibarat buah, ini buah malakama, dimakan atau tidak sama-sama menyulitkan dan bikin serba salah.

Roda perekonomian kita memang sedang seret, butuh banyak pelumas. Sekarang kita menghadapi banyak perusahaan bangkrut, PHK dimana-mana, nilai tukar rupiah masih di atas awan, inflasi masih di atas 3 persen, daya beli masyarakat tak kunjung membaik.

Paket-paket kebijakan ekonomi yang dibungkus pemerintah memang diharapkan bisa menjadi pelumas agar roda ekonomi bisa berputar lebih kencang. Dan industri sebagai salah satu penggerak roda ekonomi mesti mendapat perhatian. Tapi, sektor tenaga kerja juga mestinya mendapat perhatian yang sama besar. Mereka butuh paket-paket ekonomi untuk meringankan beban. Mereka tidak perlu dihalangi berdemonstrasi, karena yang dibutuhkan adalah perhatian lebih dari pemerintah terutama terhadap para buruh kecil, yang gajinya tak cukup untuk hidup sebulan. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Periksa Saksi Meringankan Setnov Pekan Depan

  • Polda Metro Rilis 2 Sketsa Terduga Penyerang Novel
  • Polda Papua Akui Ada Perintah Tembak di Tempat di Tembagapura
  • Pemprov Akan Pelajari Investigasi Ombudsman

Program diharapkan dapat mendukung ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan lahan di daerah masing-masing