Foto: Facebook Presiden Joko Widodo

Foto: Facebook Presiden Joko Widodo

Apa itu rumah? Seperti apa rumah yang nyaman?


Jawabannya berbeda untuk orang yang berbeda pula. Ada yang suka rumah yang menjejak tanah, ada yang tak soal jika harus punya rumah bertemu langit alias apartemen tinggi. Ada yang menyebut kontrakan petak kecil sebagai rumah, ada juga yang ingin rumah gedong dengan halaman luas.


Ketika Presiden Joko Widodo mengunjungi Suku Anak Dalam pekan lalu, ia menawarkan rumah tinggal kepada mereka. Presiden pertama yang mengunjungi suku di hutan pedalaman Jambi ini meminta supaya orang-orang dari suku ini berhenti nomaden dan mulai menetap di rumah.


Di foto yang beredar, tampak Jokowi berbincang dengan orang-orang Suku Anak Dalam dalam posisi jongkok. Jokowi dengan kemeja putih, sementara orang Suku Anak Dalam ada yang bertelanjang dada. Di latar foto ada pohon sawit. Sawit yang membuat Suku Anak Dalam kehilangan hutan mereka – rumah mereka yang sesungguhnya.


Meminta orang Suku Anak Dalam untuk punya rumah dan berhenti nomaden seperti menafikkan gaya hidup mereka. Seolah menafikkan ada pola hidup yang berbeda dengan mereka yang tinggal di kota atau kampung. Sementara berpindah-pindah adalah bentuk ikatan Suku Anak Dalam dengan hutan mereka. Rumah mereka adalah hutan, bukan empat dinding yang mengungkung.


Ketika Jokowi bertemu dengan Suku Anak Dalam, yang semestinya jadi perbincangan adalah sawit. Dari film Sokola Rimba yang diambil dari pengalaman Butet Manurung ketika mengajar Suku Anak Dalam selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa sawit adalah ancaman utama rumah mereka. Mereka yang buta huruf ditipu dengan selembar surat yang tak mereka pahami, lantas hutan mereka hilang. Menjadi kebun sawit.


Suku Anak Dalam yang ditemui Jokowi kemarin setuju dengan gagasan rumah. Syaratnya, rumah itu harus di dalam hutan. Tidak seperti 15 rumah sebelumnya yang diberi Pemerintah, yang berada di luar hutan dan tak lengkap fasilitasnya sehingga tak layak huni. Selain itu, Pemerintah siap memberikan dua ribu hektar untuk Suku Anak Dalam. Menawarkan rumah adalah gestur yang baik. Tapi akan lebih baik dan betul lagi jika Presiden memastikan Suku Anak Dalam bisa kembali memiliki hutan mereka sebagai rumah. Dan memastikan hak mereka tak diserobot kebun sawit.  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!