Pita Hitam hari Kesehatan

Hari Kesehatan Nasional tahun ini diperingati dengan suasana duka. Bila Anda kemarin berkunjung ke fasilitas kesehatan mungkin melihat tenaga medis yang mengenakan pita hitam.

Jumat, 13 Nov 2015 11:00 WIB

Ilustrasi. (Antara)

Ilustrasi. (Antara)

Hari Kesehatan Nasional tahun ini diperingati dengan suasana duka. Bila Anda kemarin berkunjung ke fasilitas kesehatan mungkin melihat tenaga medis yang mengenakan pita hitam. Perubahan berbalut duka ini lantaran sehari sebelumnya, pada Rabu, dunia kesehatan kehilangan Dokter Dionisius Giri Samudera atau kerap dipanggil Dokter Andra.

Dokter Andra belum lama lulus Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Sebelum beroleh izin praktik, sebagai dokter muda, Andra wajib mengikuti program magang. Dia bertugas di rumah sakit Cenderawasih, Dobo, Kepulauan Aru, Maluku. 

Di daerah terpencil itu dokter Andra terkena demam tinggi. Akibat fasilitas tak memadai dan sulit untuk dibawa ke kota besar, Dokter Andra tak mampu bertahan. Bahkan hingga maut merengut nyawanya, lantaran kendala transportasi, tak mudah membawa jenazah Dokter Andra kembali ke keluarganya. 

Kita ikut berduka dan kehilangan. Kesehatan memang mahal. Bahkan bila kita mempunyai uang sekalipun, sarana dan prasarana kerap tak memungkinkan untuk mendapat fasilitas dan perawatan yang terbaik. Pun apalagi bagi mereka kaum papa, yang tak punya daya dan biaya untuk mendapat rawatan bahkan yang minimal sekalipun.

Pemerintah memang punya program kartu sehat dan juga asuransi kesehatan Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS). Tapi itupun kerap tak memadai. Pasien yang bahkan dalam kondisi parah harus mengantre untuk bisa mendapat kamar bagi pasien BPJS. Padahal setiap detik akan sangat berarti bagi pasien untuk mendapatkan kesembuhan.

Sembari terus meningkatkan sarana dan prasarana, pun juga sikap mental tenaga medis mesti terus diperbaiki. Mengingat dan mengamalkan sumpah; membaktikan hidup untuk kepentingan perikemanusiaan dan mengutamakan kesehatan pasien. Bukan untuk kepentingan farmasi atau bisnis kesehatan. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Terus Genjot Revitalisasi Pasar, Mendag Undang Pengelola

  • Memasuki Musim Hujan, Pemprov DKI Belum Temukan Solusi Inovatif Masalah Banjir
  • Filipina Tangkap Perempuan Perekrut ISIS Marawi

Kenaikan harga rokok dengan hanya 9 persen dibanding tahun 2016 atau sekitar 30 perak per batang, dianggap tak mampu mengerem konsumsi rokok yang bertujuan melindungi kesehatan publik