Ilustrasi. (Antara)

Ilustrasi. (Antara)

Hari Kesehatan Nasional tahun ini diperingati dengan suasana duka. Bila Anda kemarin berkunjung ke fasilitas kesehatan mungkin melihat tenaga medis yang mengenakan pita hitam. Perubahan berbalut duka ini lantaran sehari sebelumnya, pada Rabu, dunia kesehatan kehilangan Dokter Dionisius Giri Samudera atau kerap dipanggil Dokter Andra.

Dokter Andra belum lama lulus Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Sebelum beroleh izin praktik, sebagai dokter muda, Andra wajib mengikuti program magang. Dia bertugas di rumah sakit Cenderawasih, Dobo, Kepulauan Aru, Maluku. 

Di daerah terpencil itu dokter Andra terkena demam tinggi. Akibat fasilitas tak memadai dan sulit untuk dibawa ke kota besar, Dokter Andra tak mampu bertahan. Bahkan hingga maut merengut nyawanya, lantaran kendala transportasi, tak mudah membawa jenazah Dokter Andra kembali ke keluarganya. 

Kita ikut berduka dan kehilangan. Kesehatan memang mahal. Bahkan bila kita mempunyai uang sekalipun, sarana dan prasarana kerap tak memungkinkan untuk mendapat fasilitas dan perawatan yang terbaik. Pun apalagi bagi mereka kaum papa, yang tak punya daya dan biaya untuk mendapat rawatan bahkan yang minimal sekalipun.

Pemerintah memang punya program kartu sehat dan juga asuransi kesehatan Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS). Tapi itupun kerap tak memadai. Pasien yang bahkan dalam kondisi parah harus mengantre untuk bisa mendapat kamar bagi pasien BPJS. Padahal setiap detik akan sangat berarti bagi pasien untuk mendapatkan kesembuhan.

Sembari terus meningkatkan sarana dan prasarana, pun juga sikap mental tenaga medis mesti terus diperbaiki. Mengingat dan mengamalkan sumpah; membaktikan hidup untuk kepentingan perikemanusiaan dan mengutamakan kesehatan pasien. Bukan untuk kepentingan farmasi atau bisnis kesehatan. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!