Ilustrasi: Antara

Ilustrasi: Antara

Sejumlah wilayah di pulau Sumatera dan Jawa sudah mulai merasakan hujan pertama setelah kemarau panjang. Bahkan ada yang diguyur hujan deras disertai angin kencang. Berbulan-bulan lamanya kita menunggu datangnya hujan dengan beragam sebab. Tidak saja karena kebakaran hutan dan lahan begitu sulit diatasi dengan cara pemadaman biasa. Tapi juga karena banyak lahan pertanian kering dan krisis air terjadi di mana-mana.

Wajah-wajah sumringah terlihat saat menyambut dan merasakan guyuran hujan pertama di awal November.

Menyambut hujan tidak sekadar dengan payung atau jas hujan. Tapi juga bagaimana kita belajar dari kesalahan-kesalahan di masa lalu; ketika musim hujan kerap menyebabkan banjir di mana-mana, sementara saat kemarau air justru langka.

Kita wajib menyambut musim hujan ini dengan cara yang lebih istimewa dibanding sebelumnya. Memastikan saluran-saluran air bersih dari sampah akan bisa mencegah banjir. Menyiapkan banyak sumur serapan dan tempat-tempat penampungan air akan bisa membantu kita dari krisis air di musim kemarau.

Bagi mereka yang tinggal di daerah penghasil sampah dengan volume besar, juga wajib memberikan sambutan terhadap datangnya musim hujan dengan cara lebih istimewa. Cara termudah tentu mengurangi membuang sampah, terutama sampah yang tidak mudah terurai. Tumpukan sampah di musim hujan akan menjadi sumber bibit penyakit bagi orang lain. Jangan
biarkan ada air menggenang agar tidak jadi sarang nyamuk.

Jangan sampai kita kedatangan hujan tanpa persiapan dan sambutan istimewa. Jangan sampai hujan yang kita harapkan itu datang sambil membawa bencana. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!